Press "Enter" to skip to content

Sungai di trotoar jalan

C e r p e n   : Fadly Bahari


Dilangit, awan gelap menggayut menghiasi temaram lembayung senja, Semburat jingganya biaskan rona merah, segarkan wajah kota Jogja yang pucat pasi setelah seharian diguyur hujan.

Hujan telah reda. Kini aku sendiri di halte bis ini. Sepi, setelah beberapa waktu tadi sesak terhimpit diantara desakan orang-orang yang turut berteduh dari guyuran hujan di halte bis ini. Berbagai keluhan, umpatan dari mereka, mengudara bebas, mengatmosfir, membentuk kubah gerah dalam sejuknya udara. Hujan belum lagi sepenuhnya reda ketika tadi satu persatu mereka bergegas melangkah pergi. Membawa penat, pegal yang tak tertahankan.

Hujan telah reda. Menyisakan titik-titik air pada angin sore yang berhembus dingin, menerbangkan dedaunan basah dari pepohonan yang juga basah. Basah, terlebih diruas jalan aspal yang disana-sini terlihat banyak digenangi air. Dicipratkan kesana-sini oleh ban-ban berbagai kendaraan basah yang melintas. Menciprati, mengguyur, membasahi trotoar-trotoar jalan yang memang selalu basah, dibasahi oleh para Gembel dengan curahan hujan air mata mereka dari tahun ketahun. Dari setiap waktu.

Yah, Hujan yang tak mengenal musim hanya ada di trotoar-trotoar jalan. Datang, seiring datangnya kesadaran tak adanya harapan akan masa depan dalam diri setiap gembel. Yang mana berarti kesadaran bahwa ia bukan lagi bagian dari masa depan.

Aku terkesima. Seperti yang sudah-sudah, setiap kali pemahaman itu menyeruak didalam diriku, seiring dengan itu sungai kecil berair bening akan perlahan nampak dalam pandanganku, mengalir dengan tenang diatas trotoar jalan.

Kali ini pun begitu. Cuma saja terasa bagiku bahwa semakin hari penampakan sungai kecil itu semakin lebih cepat mewujudnya. Dan semakin lebih nyata. Kukatakan demikian, karena aku tahu sungai itu hanya bentuk ilusi imajinatifku saja.

Aku telah pernah coba menelusurinya untuk mencari tahu dimana hulu dimana hilirnya. Ketika itu ia selalu  keburu sirna. Berkali-kali kucoba namun selalu seperti itu, lenyap sebelum kutemukan salah satu ujungnya. Lenyap. Sirna. Tanpa bekas, tanpa jejak.

Aku tercenung. Merenung, Mengurai berbagai kemungkinan absurd terkait fenomena sungai tersebut. Bahwa sungai itu mungkin hanya refleksi imajinatif dari pemahamanku tentang hujan airmata para gembel di trotoar-trotoar jalan. Yang jika demikian, dapat dikatakan bahwa sungai kecil itu adalah sungai air mata para gembel.

Lebih jauh perenunganku, secara intuitif, tersirat pula bagiku bahwa hanya mata hati yang mampu menyaksikan keberadaan bentuk absurd seperti itu. Dengan kata lain, hanya mata hati yang mampu menyaksikan aliran sungai kecil berair bening itu. Hanya dimata hati terlihat mengalirnya sungai kecil itu. Hanya dengan mata hati mengalir atau tidaknya sungai air mata itu. Sungai air mata yang bermata air di mata hati. Mata hati sebagai hulunya dan diluar mata hati sebagai hilirnya.

***

Dari hari ke hari ada begitu banyak orang-orang yang lalu lalang diatas trotoar-trotoar jalan. Sering kali aku mengamati, sambil bertanya-tanya, apakah mereka juga menyadari keberadaan sungai kecil itu? Dilain saat, aku juga menyempatkan diri membaca berbagai jenis buku terbitan lama maupun baru, Menyimak berbagai berita dimedia cetak dan elektronik, Sejauh ini …, aku sangat kecewa! Jauh di dalam, hatiku bertanya memaki: apakah mata hati semua orang telah buta?

Wajarlah jika tak ada lagi yang peduli terhadap kenestapaan para gembel di trotoar-trotoar jalan. Kenestapaan yang menjamakkan keputusan tragis: mengakhiri hidup yang tiada arti. bunuh diri; pencapaian kesadaran tertinggi bagi kaum gembel.

Dan bukankah itu berarti kematian!? Jasad! ya, bagaimana dengan jasad-jasad mereka!? Dikuburkan? Oleh siapa?

Apakah mungkin debu yang berterbangan di jalan bercampur asap knalpot berbagai kendaraan, adalah jasad mereka yang telah dikeramasi secara alami oleh matahari?

Apakah kerikil-kerikil kecil yang bertebaran, yang kadang secara iseng kita sepak itu adalah tulang-tulang mereka yang memfosil?

Bagiku asumsi ini lebih logis, dari pada jika di katakan bahwa jasad-jasad mereka telah diurusi oleh pemerintah yang jelas-jelas lebih mementingkan kepentingan pribadi, sejawat, kelompok, atau pun partai. Mereka yang kesemuanya adalah bermata hati buta. Dibutakan oleh keserakahan akan harkat dan martabat.

Harga! Ya, Jelas bahwa mata hati mereka butuh harga untuk dapat melihat. Harga dari suatu yang dapat dihargainya. Hargalah pedoman mereka dalam berprilaku dan bertutur kata.

Dan jika kepada gembel mereka tak peduli, apakah karena menganggap tak ada harga? Tak bernilai?

Begitu goblokkah mereka sehingga tak mengerti bahwa setiap yang ada di muka bumi ini, hidup atau mati, nyata atau tidak nyata, adalah memiliki nilai. Nilai yang seminimal apapun adalah tetap nilai, yang langsung atau tidak langsung akan saling terkait, saling mempengaruhi. Suatu kodrat yang jika disikapi dengan kebijaksanaan, tentu akan menciptakan kedamaian dan keindahan. Ya Tuhan! Punahkan sajalah mereka yang mengabaikan konsep hidup seperti ini.

***

Matahari telah tenggelam. Haru biru hatiku mengiringi langkah kakiku memenuhi panggilan adzan Magrib yang baru saja usai berkumandang. Dibawah gemerlap cahaya lampu-lampu jalan, tepat di sebelahku, di atas trotoar jalan yang kutapaki, nampak sungai kecil berair bening mengalir sedikit beriak seirama isak tangis di hatiku.

Jogja, 2004

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 views