Press "Enter" to skip to content

Nusantara sebagai “Negeri Saba” Menurut Beberapa Catatan Kuno

Last updated on November 16, 2019

(sumber: mythologica.fr)

Pada masa sekarang, ada banyak pihak yang mengklaim Nusantara sebagai negeri Saba di masa lalu. Namun klaim-klaim tersebut umumnya didasari oleh keberadaan beberapa toponim di Nusantara yang dianggap identik dengan nama “Saba atau Sabah”, antara lain: Wonosobo, sabah, dan masih banyak lagi.

Klaim yang didasari keberadaan toponim yang dianggap identik seperti ini akan menemukan kesulitan ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa terdapat pula toponim atau etnonim yang identik dengan Saba di wilayah belahan bumi lain, didukung dengan bukti-bukti yang lebih konkrit berupa manuskript kuno dan berbagai artefak lainnya.

Contohnya “kebra nagast“, catatan kuno dari abad ke-14, yang berisi penjelasan tentang bagaimana Ratu Syeba (Ratu Makeda dari Ethiopia) bertemu Raja Salomo dan tentang bagaimana Tabut Perjanjian datang ke Etiopia dengan Menelik I (Menyelek). Terkait hal ini, David Allan Hubbard menjelaskan Dalam tulisannya “The Literary Sources of the Kebra Nagast” (Dissertation. University of Saint Andrews,1956).

Juga terdapat temuan arkeologis di wilayah Yaman (Arab selatan) mengenai eksistensi kerajaan Saba di wilayah tersebut pada masa kuno. Sebagaimana yang dijelaskan Israel Finkelstein dan Neil Asher Silberman (2007) dalam buku “David and Solomon: In Search of the Bible’s Sacred Kings and the Roots of the Western Tradition” yang menegaskan negeri Saba letaknya di Arabia Selatan.

Namun pun demikian, klaim Nusantara sebagai Negeri Saba pada masa lalu, tidak sepenuhnya lemah. Terdapat beberapa catatan kuno yang secara signifikan menyebutkan nusantara sebagai Negeri Saba.

Laporan Nusantara sebagai negeri Saba yang sesungguhnya, datang dari catatan perjalanan Giovanni de Marignolli, seorang musafir katolik terkemuka dari Eropa yang berkelana ke Cina pada abad-14 Masehi. Catatan perjalanan Marignolli itu kemudian diedit oleh Gelasius Dobner dalam “Monumenta historica Bohemi” (Praha, 1768) dalam bentuk bahasa latin. Ada pun terjemahan bahasa inggrisnya dapat ditemukan dalam buku Sir Henry Yule “Cathay and the way thither: being a collection of medieval notices of China”.

Ia mengatakan bahwa dalam perjalanan pulang dari Cina untuk kembali ke Avignon (Italia), ia memutuskan menggunakan jalur laut, setelah sebelumnya menggunakan jalur darat untuk memasuki wilayah Cina, yang dengan demikian, memungkinkan ia untuk dapat mampir di Nusantara dan India. Dalam perjalanan pulang ini ia mengatakan menyempatkan diri mengunjungi negeri Saba yang disebut dalam kitab suci, yang ia temukan masih dipimpin oleh seorang ratu. Ia menyebut kerajaan itu terletak di pulau paling indah di dunia. Dinding istana dihiasi dengan gambar-gambar historis yang bagus; kereta dan gajah banyak digunakan, terutama untuk para wanita; ada gunung yang sangat tinggi, yang disebut Gybeit atau “Yang Terberkati.” Ratu memperlakukan dengan baik para pelancong dengan menghadiahkan mereka ikat pinggang emas; ada beberapa orang-orang Kristen di sana.

Jika negeri Saba yang ia datangi adalah wilayah nusantara, maka kemungkinan pada saat itu ia berkunjung ke jawa, dan kerajaan yang ia kunjungi adalah majapahit yang pada saat itu dipimpin oleh Tribhuwana Tunggadewi segera setelah Raja Jayanagara mangkat, hal itu terbukti dari piagam Berumbung yang dikeluarkan oleh Rani Tribhuwana Tunggadewi pada tahun Saka 1251 bulan Bhadra (Agustus-September 1329 Masehi). Waktu ini sesuai dengan kisaran tahun perjalanan Marignolli di asia. (Piagam Berumbung, 1329, disinggung oleh N.J. Krom _dalam “Epigraphisce Aanteekeningen XIII”, T.B.G. LVIII, hlm. 161; diumumkan pada tahun 1915 dalam O.V., no. 2, hlm. 68; dibahas oleh F.H. van Naerssen dalam B.K.I. 1933, hlm. 239-258).

Dalam buku yang disusun Sir Henry Yule terkait perjalanan Marignolli, terdapat bagian yang memaparkan beberapa perbedaan pendapat yang terjadi terkait negeri Saba yang dikunjungi Marignolli, seperti Meinert yang mengatakan bahwa itu jelas Jawa, sedangkan Profesor Kuntsmann menyebutnya sebagai Maldives. Ada juga bagian dalam kutipan yang mempertimbangkan letak kerajaan Saba antara di wilayah Jawa dan Sumatera, Namun sepertinya, pada akhirnya Sir Henry Yule kembali pada pendapat semula yakni; Jawa.

Sumber lain yang mengungkap adanya keterkaitan Negeri Saba dengan wilayah nusantara adalah catatan “Tuhfat al-Nafis” Raja Ali Haji Ibn Ahmad, yang kemudian diterjemahkan oleh Virginia Matheson and Barbara Watson Andaya (1982) dengan judul “The Precious Gift (Tuhfat al-Nafis) Raja Ali Haji Ibn Ahmad“. Dalam buku tersebut terungkap bahwa …Raja-raja Bugis yang melakukan perjalanan ke barat dari tanah Bugis berasal dari Sitti Mallangkik, Ratu dari sebuah negara bernama Luwu. Beberapa tradisi Bugis menduga bahwa ia berasal dari Puteri Balkis, Ratu Sheba, yang merupakan istri dari Nabi Sulaiman.

Catatan kuno lainnya yang menyebut Nusantara sebagai Negeri Saba, dapat pula ditemukan dalam catatan “The Geography” Ptolemy yang menyebutkan wilayah ini sebagai Sabadeiba. Juga, Catatan Cina kuno yang menyebut kawasan samudera selatan (Nusantara) sebagai: She-po atau Cho-po.

Terkait kesemua fakta-fakta yang terurai di atas, secara pribadi saya berpandangan bahwa keberadaan Kerajaan Saba di Yaman (Arab Selatan) dan Kerajaan Saba di Ethiopia, merupakan wujud dari migrasi atau penyebaran orang-orang Nusantara pada masa kuno ke wilayah barat, yang membangun koloni baru disana, dengan tetap menggunakan nama atau identitas awalnya.

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat… salam.

Baca lanjutan tulisan ini di sini: Negeri Pagi” sebagai Identitas Nusantara pada Masa Kuno



Tulisan ini juga telah tayang di akun saya di Kompasiana. di sini: kompasiana.com/fadlyandipa

Fadly Bahari, Palopo 27 Februari 2019



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 views