Press "Enter" to skip to content

monolog pembuka novel “lukisan setengah jadi” by: fadlybahari

Suatu saat engkau akan seperti lukisan setengah jadiku.. dulu aku berjanji, suatu ketika akan melanjutkannya.. Lalu tahun demi tahun berlalu, lukisan itu tetap seperti semula, tak ada perubahan. Posisinya pun tak berganti tempat, masih saja tetap bertengger di stan lukis. seperti terus menunggu, seperti baru kemarin. 8 tahun telah berlalu, tapi setiap kali menatapnya… segala hal yang terjadi antara aku dengannya tergambar jelas seperti baru kemarin.

Keheningan saat dini hari adalah saat paling menyenangkan untuk kami bercengkrama.. malam demi malam senantiasa dipenuhi luapan-luapan emosi,ekspresif dalam nada tegas pun dalam nada kelembutan. Membenamkan resah dan keraguan dalam lapisan warna tegas optimisme, lalu di setiap akhir ditutup ikhlas yang teriringi doa.

Di saat pagi, aku tahu dia selalu ingin aku ngopi bersamanya, duduk didekatnya, menatapnya, menyelami garis dan sapuan warna yang telah kamu ciptakan semalam, lalu nantinya secara perlahan ia akan memberiku ispirasi baru… tentang arah yang semakin tegas akan kami tuju, dan tak lupa ia memotivasiku untuk semangat menjalani hari, dalam menggeluti rutinitas kerja, demi kami, demi indahnya malam-malam hening kami.

Lalu takdir menggerakkanku kejalan yang berbeda, kami terpisah.. oleh kondisi_, oleh
ketidakyakinan diri, oleh keraguan,oleh keinginan untuk mendapat suatu yang lebih baik, oleh kebodohanku sendiri yang secara sepihak menentukan alasan: ini demi kebaikan kita, ini demi keberlangsungan kebahagian hidup kita.

Oleh semua omong kosong itulah kami terpisah.

Kini 8 tahun telah berlalu.. dan segalanya masih saja terasa seperti kemarin. 8 tahun yang telah kulewati tak sedikitpun menyisahkan kenangan, sekuat kenanganku dengan lukisan setengah jadiku. 8 tahun kumengejar kekosongan. 8 tahun yang sia-sia.

Kini kukatakan sekali lagi, suatu saat engkau akan seperti lukisan setengah jadiku..
jalinan rasa dalam pendakian malam-malam hening yang kita lalui bersama, telah membangun triangulasi di hati.

Kebersamaan kita memang singkat, tapi penuh makna.

Aku menceritakan ini tidak niat untuk membuatmu iba lalu kembali kepadaku. Aku menceritakan ini karena engkau pun harus tahu, engkau bagian dalam cerita ini, engkau inspirasi dari cerita ini. Sudahlah, tak perlu mengatakan lagi kalimat yang seringkali kau hadapkan padaku: “aku tidak harus tahu dan tidak mau tahu” kalimat yang seringkali membuatku tercekat, mematikan langkah pikiranku, selalu berhasil membuatku tak dapat melanjutkan ucapan.

Kini kumohon padamu, sudahlah…
mari kita jejaki episode baru. sebagai sahabat, akan ada banyak hal yang kita dapat berbagi

—————————– fadlybahari @makassar, 12 februari 2011 —————————–

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 views