Press "Enter" to skip to content

Makna Sesungguhnya dari Nama “Sailendra”

Last updated on November 16, 2019

Sumber: https://travel.kompas.com (KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT)

Pada umumnya para ahli sepakat bahwa nama Sailendra berasal dari bahasa Sanskerta, yakni gabungan kata Saila= gunung, dan Indra=raja, yang berarti “Raja Gunung”. Inilah yang mendasari pendapat G. Coedes yang menganggap bahwa dinasti Sailendra berasal dari Fu-nan (Kamboja). Karena menurutnya Raja-raja Fu-nan disebut parwatabhupala yang berarti “raja gunung”, sama dengan kata Sailendra

Tetapi beberapa Ahli sejarah Kamboja telah mengabaikan ini. Mereka berpendapat bahwa tidak ada bukti historis untuk gelar-gelar semacam itu pada periode Funan. (Jacques 1979; Vickery Michael. Funan Reviewed : Deconstructing the Ancients. In: BEFEO, 2003. pp. 101-143)

Prasasti-prasasti yang dibuat wangsa Sailendra menggunakan tiga bahasa: Melayu kuno, Jawa Kuno, dan Sanskerta. 

Tapi Prasasti Sojomerto (ditemukan di Kabupaten Batang , Jawa Tengah. Diperkirakan berasal dari akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8 Masehi) yang pertama kali menyebutkan nama “Dapunta Selendra“, menggunakan bahasa Melayu kuno.

Sementara itu, prasasti dengan penanggalan paling awal di Indonesia, di mana jelas disebutkan nama “dinasti Sailendra” sebagai Sailendravamsatilaka muncul pada prasasti Kalasan (diperkirakan berasal dari tahun 778 M, menggunakan bahasa Sanskerta). 

Jadi, jika di dalam Prasasti Sojomerto hanya menyebutkan “Dapunta Selendra“, maka dalam prasasti kalasan telah dengan jelas menyebutkan Sailendra sebagai suatu wangsa, dinasti, atau keluarga.

Sebutan “dapunta” dalam prasasti Sojomerto kemudian oleh para ahli dikaitkan dengan nama Dapunta Hyang Sri Jayanasa yang ada disebutkan dalam prasasti kedukan bukit (prasasti ini ditemukan di Sumatera selatan, dan Dapunta Hyang Sri Jayanasa oleh para dianggap sebagai pendiri kerajaan Sriwijaya).

Suatu hal yang luput dari pencermatan para ahli sejarah terkait historiografi Asia tenggara adalah pencermatan isi prasasti (terutama yang selama ini disebut menggunakan bahasa melayu kuno) dalam perspektif Bahasa Tae’ yang umum digunakan di Sulawesi selatan khususnya di Luwu dan Toraja.

Berikut ini tinjauan sebutan “dapunta” dan “sailendra” menurut perspektif Bahasa Tae’.

Arti “Dapunta Sailendra” dalam perspektif Bahasa Tae’
Bentuk kata “dapunta” besar kemungkinan terdiri dari: da (bentuk predikat, seperti dethe, atau la); dan, punta atau bunta‘ yang dalam Bahasa Tae’ artinya “mustika.”

Salah satu daerah di Tana Luwu yang masih menggunakan kata ini adalah: Baebunta di Luwu utara yang artinya “mustika air” (bae=air, bunta=mustika). Jadi arti Dapunta Sailendra dalam Bahasa Tae’ adalah: mustika sailendra. 

Dapunta Sailendra yang dalam Bahasa Tae’ artinya “Mustika Sailendra” rupa-rupanya persis sama dengan yang diperlihatkan dalam prasasti Kalasan (prasasti berbahasa Sanskerta) yang menuliskan “Sailendravamsatilaka” yang juga artinya “Mustika keluarga Sailendra”.

Jadi, dalam prasasti yang berbahasa melayu kuno (seperti prasasti Sojomerto) kata “mustika” tertulis sebagai “punta”, sementara dalam prasasti yang berbahasa Sanskerta (seperti prasasti Kalasan) kata “mustika” tertulis sebagai “tilaka”.

Arti “Sailendra” dalam perspektif Bahasa Tae’
Jika kita mencoba mengartikan nama “Sailendra” dalam perspektif Bahasa Tae’, maka kita akan menemukan pemaknaan lain dengan yang beredar selama ini –terutama yang mengartikan “sailendra” sebagai “raja gunung”.

Melalui perspektif Bahasa Tae’, saya melihat nama “Sailendra” sesungguhnya berasal dari kata: “sai” yang artinya “datang”, dan “landra” atau “landa” yang artinya “tempa” atau “menempa.”

kata “landra” bentuk bugisnya adalah “landro” atau “lanro” yang artinya “tempa”. Sementara aktifitas menempa besi dalam bahasa bugis disebut “malandro” atau “malanro“.

Dalam kitab I La Galigo, dewata sang pencipta disebut “To Palanro” atau ” To Palanroe” yang secara literal bermakna “pandai besi” sementara makna figuratifnya adalah ” Dia yang menciptakan, membentuk dan menata”.

jika kita mencermati berbagai mitologi yang ada di dunia, kita dapat melihat bahwa konsep “pandai besi” untuk dewa-dewa tertinggi umum digunakan. 

Dewa Mesir, Ptah, digambarkan sebagai sosok pencipta, pelindung pekerja logam dan pengrajin dalam budaya Mesir. Hephaestus dalam mitos Yunani yang menjadi Vulcan dalam sastra Latin, keduanya secara konsisten digambarkan dalam seni, membawa alat-alat mereka – palu dan penjepit pandai besi.

Sementara itu, Rajeshwari Ghose dalam bukunya Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period, mengungkap bahwa Batara Guru juga disebut sebagai “Goldsmith” atau “pandai emas” sementara anak-anaknya disebut “Blacksmiths” atau “pandai besi”. 

Berikut kutipannya:

In the Tantu Panggelaran, Bhattara Guru is described as the first of the long school of teachers or devagurus (divine teachers). He is represented as the teacher of speech and language. Mahadeva, however, is regarded as a goldsmith. …The blacksmiths are regarded as children of Mahadeva.” (R. Ghose. Saivism in Indonesia during the Hindu-Javanese period. The University of Hong Kong Press, 1966. hlm. 129-131) 

Kesamaan bentuk kata Lanra atau landra, dengan kata lenra atau lendra (dalam nama Sai-lendra) dapat kita lihat dengan memperbandingkan makna dari kata tersebut, yakni: tempa atau tampa. 

Dalam bahasa Indonesia kata “tempa” kita ketahui adalah kata kerja untuk aktivitas “mengetuk” atau “memukul” yang pada umumnya kata ini digunakan pada kegiatan pandai besi. 

Sementara kata “tampa” dalam Bahasa Tae’ adalah sebutan untuk kegiatan merontok bulir padi dengan cara memukul-mukul. varian lain dari kata tampa dalam Bahasa Tae’ adalah “tambak” dan “sambak” – semua kata ini pada prinsipnya sinonim.

Jadi variasi bentuk kata “lanro”, “lanra” dengan “lenra”, atau “tampa” dengan “tempa” bisa kita asumsikan muncul karena adanya variasi aksen semata.

Hal menarik lainnya adalah kata “landa” yang menunjukkan adanya kesamaan pula dengan kata “Lanro”, “lanra” ataupun”lenra”. 

Perubahan fonetis antara dan pada kata lanra dan landa, bisa dikatakan fenomena umum yang contohnya banyak dapat kita temukan. Misalnya Kdaton dengan kraton, padang dengan parang, datu dengan ratu, dan masih banyak lagi.

Jika kita mencermati makna kata “landa” dalam penggunaanya pada masa sekarang, kita dapat melihat jika kata “landa” umumnya digunakan pada bentuk kalimat yang menjelaskan situasi, seperti: ia dilanda rasa rindu; atau, badai melanda wilayah tersebut. Dari kedua kalimat ini, kata “dilanda” dan “melanda” bisa dikatakan juga bermakna “dihantam” ataupun “ditimpa” – yakni kata yang pada prinsipnya adalah situasi yang terjadi dalam kegiatan menempa besi.

Kesimpulannya, makna “Sailendra” jika ditinjau dalam perspektif Bahasa Tae’, secara literal bermakna “datang menempa” (sai=datang; lendra=menempa), dan secara figuratif dapat dimaknai: “datang atau hadir membentuk” atau pun “datang atau hadir membangun”.

Demikianlah, melalui peninjauan menggunakan Bahasa Tae’, nama “Sailendra” dan “Dapunta” dapat kita ketahui makna sesungguhnya.

Hal ini pada sisi lain, dapat menjadi dasar kuat untuk hipotesis bahwa yang selama ini oleh para sejarawan disebut sebagai “bahasa melayu kuno” besar kemungkinannya adalah “Bahasa Tae”.

Contoh lain, kata “Rakai” yang dalam banyak prasasti digunakan untuk menyebut penguasa daerah tertentu di masa keluarga Sailendra berkuasa, seperti Rakai Panangkaran, Rakai Warak, Rakai Watuhumalang, Rakai Garung, dan masih banyak lagi, – sesungguhnya terdapat pula dalam Bahasa Tae’. 

Dalam Bahasa Tae’, “Rakai” yang merupakan bentuk kata dasar, biasanya digunakan dengan penambahan imbuhan ma– dan pa– menjadi ma’parakai yang artinya “memperbaiki atau membenahi” (imbuhan ma‘ dalam Bahasa Tae sama fungsinya dengan imbuhan me dalam bahasa Indonesia. Demikian pula dengan imbuhan pa– dalam Bahasa Tae sama fungsinya dengan imbuhan pe-dalam bahasa Indonesia).

Jadi makna jabatan “Rakai” jika ditinjau menggunakan Bahasa Tae adalah: seseorang yang bertugas menata (penata) daerah tertentu.

Demikianlah tinjauan makna nama sailendra dalam perspektif Bahasa Tae’. Sesungguhnya masih banyak lagi kata dalam prasasti kuno yang jika ditinjau menggunakan Bahasa Tae’ akan tampil dengan makna yang jelas.

Sekian. Semoga bermanfaat… salam.
Tulisan ini telah pula tayang di akun saya di kompasiana. di sini: kompasiana.com/fadlyandipa
Fadly Bahari, Belopa 18 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 views