Press "Enter" to skip to content

Makna Sakral di Balik Nama-nama Angka

Last updated on November 16, 2019

Kutipan phytagoras diolah dari berbagai sumber (Dokpri)

Salah satu hal utama yang menjadi fokus perhatian kita ketika berupaya mencari pesan-pesan kuno dari masa lalu adalah melakukan penelitian pada objek simbol-simbol kuno.

Hal ini menjadi kecenderungan yang umum kita lakukan karena kita percaya bahwa simbol merupakan bentuk bahasa orang-orang di masa lalu dalam menyampaikan pesan tertentu. Dalam upaya tersebut, tak jarang timbul interpretasi yang beragam dari berbagai pihak. Situasi ini adalah hal yang wajar, sesuai dengan ungkapan bahwa sebuah lukisan menggambarkan ribuan kata.

Suatu hal yang sejauh ini luput dari perhatian – dalam upaya mencari pesan-pesan kuno dari masa lalu adalah pada upaya memahami makna filosofis dari nama-nama angka, dalam hal ini saya percaya bahwa semua nama-nama angka memiliki dasar asal usul.

Selama ini memang telah banyak hasil penelitian para ahli tentang angka tetapi hal itu sebatas penelitian pada bentuk tanda atau lambang angka, sistem angka, dan fungsi angka sebagai bentuk bilangan yang melambangkan suatu kuantitas (misal: panjang, berat, umur, dan lain-lain).

Jika pun ada pembahasan tentang nama-nama angka, pembahasan tersebut lebih pada usaha pengungkapan dari bahasa bangsa atau suku mana nama angka tersebut berasal dan terserap ke bahasa bangsa atau suku mana ia selanjutnya.

Demi menambah referensi kita terkait ilmu pengetahuan tentang angka, pada bagian ini saya akan mencoba memaparkan hasil penelusuran saya tentang fakta adanya makna tersembunyi pada nama-nama angka menurut bahasa tertentu.

Nama-nama angka dalam beberapa bahasa tradisional di Nusantara (Dokpri)

Dalam table di atas dapat kita lihat bahwa penamaan angka pada beberapa bahasa daerah memiliki kesamaan bunyi dengan penamaan angka dalam beberapa bahasa daerah lainnya. Ini dikarenakan adanya proses asimilasi budaya yang terjadi pada masa lalu, bahkan sangat mungkin berasal dari satu sumber yang sama pada mulanya.

Kronologis ide penelusuran makna nama angka yang saya lakukan, dapat dikatakan timbul secara intuitif dalam suatu perenungan menganalisa susunan fonetik dalam nama-nama angka dengan fokus mengamati bagaimana wujud bentuk lainnya ketika mengalami perubahan fonetik yang umum terjadi pada banyak leksikon. 

Saat itu, manakala secara berulang-ulang saya mengeja satu demi satu nama-nama angka dalam bahasa tae’, dalam suatu kesempatan, urutan nama angka “appa (empat) — lima (lima) — annang (enam)” tertangkap nalar saya seperti bunyi sebuah kalimat yang memiliki makna lain selain maknanya sebagai nama angka — semacam bentuk double-entendre, yaitu frase atau kiasan yang bisa memiliki dua makna atau yang dapat dipahami dalam dua cara yang berbeda. (Dictionary Cambridge)

Bentuk double-entendre tersebut tersaji secara homophone. Misalnya kata “one” dalam bahasa inggris untuk 1, terbaca “wan” – homophone dengan bentuk “want” yang artinya “ingin”. Nama angka tujuh dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya memiliki Double-entendre yakni kata “tuju” yang berarti “arah” (verb. menuju = mengarah).

Dalam bahasa tae’, “appalima annang” dapat berarti “memindahkan atau menuangkan pada suatu tempat penyimpanan atau wadah”. Appalima (bentuk lainnya apparimaappalemba) = memindahkan atau menuangkan, annang = simpan (bentuk lain, annangngi = simpankan), sementara bentuk terdekatnya, inang = tempat atau wadah. 

Bertitik tolak dari pemahaman di atas inilah saya semakin yakin bahwa semua nama angka dalam bahasa tradisional atau setidaknya sebagian diantaranya memiliki asal usul tertentu atau pertimbangan filosofis sehingga ia digunakan. 

Saya kemudian meneliti secara seksama keseluruhan nama angka dalam bahasa tae’, tentunya dengan pendekatan ilmu bahasa tentang perubahan fonetik untuk mengantisipasi perubahan-perubahan yang kemungkinan terjadi pada nama-nama angka tersebut. Adapun hasil penelusuran tersebut, adalah sebagai berikut:

Mesa (satu)
Mesa dapat dikatakan bentuk dasarnya esa, yang keberadaannya dapat kita lihat pada bahasa proto Austronesia, yang artinya: satu. (Pada bentuk kata mesa saya tidak menemukan makna lainnya. Sepertinya ia tetap merujuk pada makna utamanya yaitu”satu”).

Da’dua (dua)
Da’dua memiliki keunikan tersendiri karena hanya pada penamaan ini saja terdapat imbuhan da- dibagian depan, menjadikannya memiliki tiga bagian suku kata; da-du-a. Pada bahasa tradisional lain pada umumnya hanya memiliki dua suku kata seperti pada: du-a, du-wa, du-wo, du-we ataupun ru-a.

Dengan keberadaan imbuhan da- dibagian depan, menjadikan ia memiliki bentuk pemaknaan lain yakni kata “dadu” yang merupakan permainan tertua yang dikenal manusia. Seperti pada permainan papan bangsa mesir “senet” yang menggunakan dadu — dipercaya telah dimainkan setidaknya sebelum 3000 SM hingga pada abad ke-2 M. (Irving Finkel. “Board Games” – Beyond Babylon: Art, Trade, and Diplomacy in the Second Millennium B.C. Metropolitan Museum of Art, 2008, hlm. 151)

Dalam situs Britannica pada halaman yang membahas tentang dadu, disebutkan bahwa …Catatan tertulis pertama tentang dadu ditemukan dalam epik Sanskerta kuno Mahabharata, yang disusun di India lebih dari 2.000 tahun yang lalu. Dadu piramida (dengan empat sisi, yang sama tuanya dengan bentuk kubus) ditemukan bersama dengan apa yang disebut Royal Game of Ur, salah satu permainan papan terlengkap yang pernah ditemukan, yang berasal dari Sumeria di milenium ke-3 SM.

Sophocles melaporkan bahwa dadu diciptakan oleh tokoh legendaris Yunani Palamedes selama pengepungan Troy, sedangkan Herodotus berpendapat bahwa mereka diciptakan oleh Lidia pada zaman Raja Atys.

Kedua “penemuan” telah didiskreditkan oleh banyak temuan arkeologis yang menunjukkan bahwa dadu digunakan di banyak masyarakat sebelumnya. Pada mulanya dadu dianggap sebagai alat gaib yang digunakan orang primitif mengundi takdir untuk meramal masa depan.

Setelah penjabaran makna tersembunyi di balik nama angka telah terungkap secara menyeluruh akan dapat kita pahami bahwa penambahan suku kata da di depan kata dua memang memiliki tujuan untuk menyiratkan kata dadu.

Papan permainan Senet. (Sumber: touregypt.net/museum/tutl69.htm) 

Tallu (tiga)
Dengan pertimbangan adanya banyak kasus perubahan fonetik antara  l dan r, maka saya menduga bentuk tersamar dari tallu adalah kata tarru‘ yang dalam bahasa tae’  berarti “kemudian”.

Appa’ (empat)
Dalam bahasa tae’, kata “appa” jika berdiri sendiri, maknanya (selain  “empat”) adalah “sebab” atau “karena”. Tapi jika disandingkan dengan sebuah kata kerja ia akan bermakna “melakukan/ tindakan”, contoh: appa-lemba (lemba artinya “pindah”) — artinya “melakukan pemindahan” atau “memindahkan”.

Lima (lima)
Untuk kata lima ada dua dugaan saya. Pertama, dari kata tarima = terima, yang dalam pengucapannya jika disandingkan dengan kata lain akan mengalami pemendekan, contoh : appa-rima atau appa-lima. Kedua, dari kata lemba atau limba = pindah, yang juga akan mengalami pemendekan jika disandingkan dengan kata tertentu, contoh: appa-lemba atau appa-limba mengalami pemendekan menjadi appa-lima.

Annang (enam)
Dalam bahasa tae’, annang = simpan. Kata dengan bunyi yang cukup sinonim dengan annang adalah inang atau enang yang artinya; tempat.

Pitu (tujuh)
Nama Pitu untuk angka tujuh sangat popular digunakan dalam bahasa tradisional di berbagai wilayah di nusantara (dan secara umum dalam bahasa Austronesia).

Cukup lama saya mencari-cari asal usul dari kata pitu ini, hingga kemudian saya kembali mencermati artinya dalam bahasa Indonesia; tujuh, yang dalam bahasa tae’ bisa ditemukan kemiripannya pada kata mattuju yang artinya; mengarah. Dari upaya flashback inilah saya mulai memikirkan kemungkinan bahwa nama pitu” dan “tujuh” memiliki latar belakang sesuatu yang terkait dengan penunjuk arah.

Dengan menggunakan tinjaun fonetik saya kemudian mendapati bentuk lain pitu sebagai bidu, yang kemudian mengingatkan saya pada nama rasi bintang biduk. Dan akhirnya tujuh jumlah bintang terang yang membentuk formasi rasi bintang biduk membuat saya menarik kesimpulan bahwa nama pitu berasal dari nama rasi bintang ini.

Sementara itu, arti pitu dalam bahasa Indonesia, yakni; tujuh, mengambil filosofi makna dari fungsi rasi bintang biduk sebagai penunjuk arah atau tujuan.

Fakta bahwa nama angka “pitu” dan “tujuh” memiliki asal usul penamaan dari rasi bintang biduk yang merupakan penunjuk arah utara, bisa menjadi titik tolak untuk dugaan selanjutnya bahwa kemungkinan nama angka 8, 9 dan 10 dalam bahasa tradisional pun bisa jadi memiliki kaitan dengan arah mata angin pula.

Letaknya yang terlihat jelas di langit utara menjadikan rasi bintang biduk menjadi penanda arah utara. 

Kata “utara” sendiri kuat dugaan saya memiliki keterkaitan dengan kata “udara” sebagai wujud dari fenomena perubahan fonetik t menjadi d atau sebaliknya. Kenyataan inilah kemungkinan yang dengan sendirinya menginspirasi orang-orang di masa lalu menjadikannya sebagai simbol dari elemen udara. 

Pernyataan ini akan kita temukan terkonfirmasi secara jelas pada uraian-uraian selanjutnya yang menunjukkan betapa secara berurutan penamaan angka 8, 9, dan 10 dalam beberapa bahasa daerah di Nusantara terkait dengan arah mata angin barat, selatan dan timur (putaran berlawanan arah jarum jam), serta juga susunan tiga unsur kosmologi lainnya setelah udara, yakni air, tanah dan api.

Walu, Wolu,Waru dan Karrua (Delapan)
Nama WaluWolu dan Waru tentu mudah kita duga merupakan nama yang sama. Perubahan yang terjadi pada fonetik a menjadi o atau sebaliknya merupakan fenomena yang umum kita temukan dalam bahasa jawa, begitu juga yang terjadi pada fonetik l terhadap fonetik r dan sebaliknya.

Sementara itu Karrua untuk angka delapan, jika merujuk pada lampiran table di atas, terlihat hanya digunakan dalam bahasa tae’. Dalam bahasa tradisional daerah lainnya umumnya menggunakan; WaluWoluWaruLapang, dan beberapa bentuk lainnya yang pada prinsipnya memiliki kedekatan kesamaan bunyi.

Namun jika kita jeli mencermati nama-nama angka delapan dalam berbagai bahasa daerah tersebut, kita akan dapat memahami bahwa pada dasarnya mereka memiliki kaitan satu sama lain.

Contoh pertama dapat kita lihat pada karrua dan lapang. Melalui tinjauan fonetik (perubahan fonetik r menjadi l atau pun sebaliknya), kita dapat melihat bahwa bentuk lain dari karrua adalah kallua atau kalua, yang mana dalam bahasa tae’, kalllua atau kalua = luas.

Sementara itu kita ketahui bahwa dalam bahasa Indonesia kata luas dan lapang adalah sinonim. Dengan demikian, dapat kita ambil kesimpulan bahwa karrua dan lapang (sebagai bentuk bahasa daerah untuk angka delapan, pada dasarnya adalah juga sinonim.

Contoh berikutnya, yakni kaitan antara karrualapang dengan WaluWolu atau pun Waru. Pada bagian ini kita akan sedikit bermain logika untuk mendapatkan kaitan tersebut. Bahwa jika kata karrua dan lapang memiliki makna luas, pertanyaannya, apakah sesuatu yang luas tersebut yang diwakili oleh mereka?

Jawaban pertanyaan ini tentunya harus kita temukan pada kata WaluWolu atau pun Waru sebagai pembuktian bahwa mereka memang memiliki keterkaitan satu sama lainnya. Dan ternyata tuntutan ini dapat kita penuhi. Jika kita mencermati mitologi tentang dewa-dewa, akan kita temukan bahwa nama WaluWolu atau pun Waru dapat kita duga berasal dari nama Dewa Waruna yakni Dewa Laut. Sifat laut yang luas-lah yang nampaknya diwakili oleh nama  karrua dan lapang.

Demikianlah Fakta di atas rasanya cukup memberi gambaran kepada kita mengapa angka delapan mewakili unsur air. 

Sementara itu, kaitannya dengan arah barat dapat kita lihat dalam kisah mitologi Hindu bahwasanya Dewa Varuna dianggap dewa penjaga dari arah barat. 

Dalam tesis Dr. Narinder Sharma dengan judul A Study Of Varuna In The Vedic Literature Paravati Chattopadhyaya, pada halaman 34, ia menjelaskan: “…no confusion or contradiction about the direction which belongs to Varuna. All the statements in the samhitas about his direction invariably, point to the west as the direction belonging to Varuna.” (…tidak ada kebingungan atau kontradiksi tentang arah yang dimiliki oleh Varuna. Semua pernyataan dalam samhita tentang arahnya selalu, menunjuk ke barat sebagai arah milik Varuna).

Kassera / Siwa (Sembilan)
Siwa mudah diduga berasal dari nama Dewa SiwaDewa Siwa memiliki banyak nama sebutan, salah satunya adalah Girisa yang berarti gunung. Makna dari nama Girisa ini yang kelihatannya menunjukkan representasi elemen tanah.

Jika mencermati urutan angka 7 (pitu) ke 8 (waru) yang secara berurutan mewakili arah utara lalu ke barat, kita akan mudah mengasumsikan bahwa angka (siwa) tentunya mewakili arah selatan. Sayangnya, Siwa dalam konsep Dikpla (penjaga arah) menempati “pusat” yang dikelilingi oleh delapan sisi arah mata angin.

Namun demikian, jika mencermati  nama “kassera” untuk angka 9 dalam bahasa tae’, kita sedikit banyak akan mendapatkan alasan yang cukup logis bahwa memang benar angka Sembilan mewakili arah selatan.

Berikut ini pemaparannya…

Kassera, dengan tinjauan perubahan fonetik (yakni perubahan r menjadi l dan sebaliknya), akan kita dapatkan bentuk lainnya yaitu kassela. Dengan mencermati kata karrua pada penjelasan angka delapan sebelumnya, dimana kita temukan bentuk lainnya sebagai kallua yang berarti “luas”, selanjutnya kita dapat menduga bahwa kata dasar dari kata kallua adalah lua‘ yang kemudian terserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi luas. 

Jika hal ini kita terapkan pada kata kassela, maka kita dapatkan bentuk dasarnya adalah sela (suku kata kas– di depan kas-se-la kita hilangkan seperti pada kata kal-lu-a dengan kata dasar lu-a). 

Kata “sela” ini kuat dugaan saya merupakan bentuk dasar dari kata “selat“, yang mana sesuai dengan kondisinya sebagai perairan yang membentuk sela di antara dua daratan.

Selanjutnya, kata selat membentuk lagi kata selatan. Imbuhan akhiran –an pada kata selat-an menunjukkan makna tempat. Tempat yang “dimaksudkan” di sini akan ketahuan setelah kita tinjau kata selat dalam bahasa islandia dan swedia yaitu; sund, yang merupakan bentuk lain yang terlupakan dari Sunda. Jadi, Sunda arti sesungguhnya adalah selat, selat yang berada di ujung selatan. Kuat dugaan saya bahwa inilah selat yang dilalui sebelum memasuki negeri Atlantis yang diceritakan Plato.

Sangpulo (Sepuluh)
Bentuk kata dasar sangpulo adalah pulopulu atau pala, yang dengan tinjauan fonetik (yakni perubahan fonetik pada kelompok p, b dan w serta pada kelompok l dan r) dapat diduga berasal dari kata wara yang berarti pusat atau utama dalam bahasa Sanskerta. Wara sendiri memiliki bentuk lain bara yang mana menunjukkan indikasinya sebagai simbol dari elemen api. Mewakili arah mata angin terakhir; timur.

Demikianlah penjabaran seluruh makna nama angka dari beberapa bahasa daerah di nusantara (terutama dari bahasa tae’).

Dapat kita lihat bahwa makna nama angka dari mesa (satu) sampai annang (enam) cenderung lebih bersifat pengantar  menuju kandungan makna utama yang tersimpan dalam makna nama angka pitu (tujuh) hingga sangpulo (sepuluh). 

Pada makna nama angka pitu hingga sangpulo terlihat bahwa masing-masing angka tersebut mewakili empat unsur kosmologi dan tersusun sebagaimana mestinya dari unsur udara di lapisan paling luar, unsur air dilapisan berikutnya, lalu lapisan unsur tanah, dan di lapisan terakhir adalah unsur api sebagai bagian dari pada inti, yang jika dicermati, hal ini jelas-jelas mengilustrasikan gambaran bumi; udara (angkasa) dibagian terluar dan bara api dalam wujud lava sebagai pengisi inti bumi. Ini adalah gambaran makro kosmos yang pada dasarnya juga merupakan wujud dari mikro kosmos manusia.

Secara keseluruhan makna nama-nama angka yang telah diuraikan_, dapat kita susun secara utuh sebagai berikut:


(1; messasatu 
(2; dadduadadu = bentuk simbolis dari takdir atau nasib
(3; talluselanjutnya atau kemudian (tallu = tarru; merupakan bahasa tae yang berarti selanjutnya atau kemudian)
(4 & 5; appa-limadituangkan atau dipindahkan (appalima merupakan bahasa tae’ yang artinya dituangkan atau dipindahkan)
(6; annang[di] tempat atau wadah (annang atau inang merupakan bahasa tae’ yang artinya tempat atau wadah)
(7; pitu) [unsur] udara (rasi bintang biduk karena letaknya di langit menjadikannya mewakili unsur udara)
(8; waru) [unsur] air (Dewa Waruna sebagai dewa laut mewakili unsur air)
(9; siwa) [unsur] tanah (Dewa Siwa dengan nama lain Girisa yang artinya gunung, menjadikannya dapat dianggap mewakili unsur tanah)
(10; sangpulo) [unsur] api (dengan melihat morfologi bentuk kata dasar, dari bentuk “pulo“, “pulu“, “wara” hingga ke bentuk “bara” — yang mana “bara” kita ketahui identik dengan api, maka dengan demikian angka sepuluh mewakili unsur api).

Agar lebih jelas, ungkapan yang bermain simbol dan filosofi yang sangat tinggi dan kemungkinan bersifat rahasia ini, dapat kita ringkas menjadi kalimat: “SATU TAKDIR KEMUDIAN DITUANGKAN/DITEMPATKAN KE DALAM WADAH YANG TERBUAT DARI UNSUR ANGIN, UNSUR AIR, UNSUR TANAH DAN UNSUR API.”

Sangat jelas bahwa ungkapan rahasia yang tersimpan rapat dan tersamarkan dalam penamaan angka ini bercerita tentang eksistensi manusia, sebagai entitas yang sepanjang masa hidupnya dibayangi takdirnya, sekaligus sebagai entitas materi yang tersusun dari empat unsur utama.

Difusi gagasan makna angka dalam bahasa Inggris

Konsep menjadikan nama-nama angka sebagai medium penyimpanan pesan-pesan khusus seperti yang telah kita jumpai pada nama-nama angka dalam bahasa bahasa Nusantara, rupa-rupanya dapat pula kita jumpai pada bahasa lain. Karena Bahasa Inggris pun nampaknya menggunakan konsep tersebut. Silahkan mencermati uraian berikut ini:

(One) want — (two) to — (tree) try — (four) for — (five) vibe — (six) seek — (seven) spend — (eight) age — (nine) nain — (ten) then.

Bentuk kalimatnya menjadi “want to try for vibe seeks, spend age, nain then”, artinya : “Ingin mencoba mencari vibe (getaran rasa, sensasi atau energy), menghabiskan usia, nain[1] kemudian”. ([1]  Dalam kamus ibrani nain artinya padang rumput hijau/indah, kemungkinan dalam hal ini merupakan ungkapan illustrasi sebagai padang persinggahan setelah kematian.)

Jika kita perbandingkan,  gagasan pemaknaan nama angka dari beberapa bahasa daerah di Nusantara terlihat lebih kuno dan primordial dari pada gagasan pemaknaan nama angka dalam bahasa Inggris yang terkesan sudah modern bahkan terasa berpaham kebebasan.

Difusi gagasan semacam ini bisa jadi masih banyak terdapat pada nama-nama angka dalam bahasa-bahasa lainnya, hanya saja belum tergali. 

Hal ini membuktikan universalitas penyebaran gagasan yang mendasari kreativitas manusia. Di sisi lain, Dengan fakta-fakta ini, saya sependapat dengan para ahli yang konsisten menyatakan bahwa semua bahasa itu bertalian. Tidak mungkin tercipta secara indipenden di berbagai tempat.

Kesimpulan
Demikianlah, Ada banyak informasi bersifat esensi seperti ini yang secara acak tersebar dalam berbagai bentuk kebudayaan manusia dari sejak masa kuno, yang kebanyakan telah terpendam dan terlupakan dalam ingatan kolektif manusia. Anasirnya yang terpisah dengan tinggalan jejak yang samar dan sulit dikenali, menjadikannya teka-teki yang sulit terpecahkan. 

Menyadari ini secara holistik adalah titik dimana kita melihat bahwa pencerahan dari Sang Pencipta sebagai satu-satunya jalan. Memohon sembari terus berupaya memantaskan diri (memaksimalkan kemampuan analisa dan meluaskan cakrawala pandang) agar mendapatkan petunjuk-Nya adalah mutlak untuk dilakukan bagi setiap orang yang memilih jalan pencarian esensi ini.

Bukanlah suatu kebetulan jika orang-orang pandai di masa kuno selain memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam, ia juga memiliki ketinggian spiritual yang baik, karena memiliki kemurnian bathin adalah prasyarat untuk mengetahui hal-hal yang bersifat esensi.

Saya percaya bahwa informasi yang dikemas seperti makna sakral dibalik nama-nama angka yang baru saja kita urai adalah otentik, dan adalah merupakan buah karya seorang yang suci, yang memiliki visi tersendiri dalam menyimpan informasi dengan cara seperti itu. Visi tersebut bisa jadi merupakan bentuk penyesuaian dengan suatu mekanisme metafisika yang berlaku di alam semesta.

Dengan dikemas secara samar sedemikian rupa maka makna sakral yang ingin di jaga orisinalitasnya akan terhindar dari kondisi termanipulasi secara sengaja maupun tidak disengaja. Berikut ini konstruksi penyamarannya:

Memanfaatkan fitur gramatikal (sistem angka) dari bahasa tertentu sebagai medium penyimpanan. Pilihan ini strategis, dikarenakan himpunan lambang dasar pada sistem angka (yakni:1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, dan 10) secara tradisional merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan selain itu memiliki aturan susunan yang baku, sehingga kepingan-kepingan pesan dari informasi yang ingin disamarkan dapat dijaga urutan susunannya secara tepat dengan meletakkannya sesuai dengan susunan baku dalam sistem angka tersebut.

Metode peletakannya adalah dengan menjadikan nama dari masing-masing lambang dasar pada sistem angka (nama-nama angka) semacam bentuk double-entendre, yang makna dari bentuk gandanya  merupakan suatu ungkapan bentuk perandaian atau simbolik yang memuat rincian pesan yang dimaksudkan.

Nama-nama angka yang dibentuk sebagai suatu bentuk ungkapan perandaian atau simbolik kemudian diberi perubahan fonetik yang jalan pemecahannya adalah dengan mengacu pada sistem aksara Brahmik atau Abugida, yang telah mengelompokkan masing-masing unit aksaranya menurut indikasi pelafalannya.

  • ka – ga – nga – ngka (guttural)
    • pa – ba – ma – mpa (labial)
    • ta – da – na – nra (dental)
    • ca – ja – nya – nca (palatal)
    • ya – ra – la – wa (semivowel)
    • sa – a – ha (Sibilant)

contoh: pitu = bidu (p dan b sama-sama dalam kelompok fonetik labial, t dan d sama-sama dalam kelompok fonetik dental).

Jika seandainya dari semenjak dahulu kita menggunakan kata bidu untuk angka 7 kemungkinan kita akan dengan mudah menebak bahwasanya nama itu berasal dari nama formasi bintang biduk, yang mana bintang terang yang menyusun formasinya secara kebetulan memang berjumlah 7.

Penelusuran asal-usul berbagai nama angka dalam bahasa tradisional dan asal usul nama arah mata angin yang kita temukan sangat terkait dengan konsep kosmologi (makro kosmos dan mikro kosmos) semestinya menyadarkan kita betapa rapinya rekaman ingatan kolektif yang kita warisi dari masa lalu, serta yang tak kalah penting adalah menyadari bahwa bahasalah (khususnya bahasa tradisional) yang menjadi media pilihan penyimpan rekaman tersebut.

Mekanisme pewarisan bahasa pada manusia yang bekerja secara neurotik dalam otak manusia (yang kapasitas penyimpanannya bisa dikatakan tak terhingga) yang proses akuisisinya dimulai sejak lahir dan mencapai tingkat dapat diucapkan dengan fasih pada usia tiga tahun, yang kemudian di sisi lain, akumulasi jumlah manusia yang terlahir jika dihitung menurut basis periode masa kelahiran tertentu adalah bersifat kelipatan, menjadikan ingatan manusia secara kolektif sebagai media penyimpanan yang sangat efektif secara kapasitas maupun kontinuitas.

Sejarah membuktikan bahwa bahasa dapat bertahan hingga ribuan tahun, dan dengan sendirinya rekaman konsep filosofi yang tersimpan di dalamnya terjaga keotentikannya. 

Distorsi pemahaman yang jika pun ada pada kenyataannya lebih bersifat fungsi sebagai selubung, yang untuk proses penguraiannya  kembali ke bentuk asli telah tersedia instrumennya pada ilmu tata bahasa dan aksara yang juga telah diwariskan kepada kita. 

Pemahaman ini setidaknya ada keterkaitan dengan salah satu kutipan dari Pitagoras yang mengatakan: 

“…angka merupakan sesuatu yang sakral, yang akan menyelesaikan atau membuka rahasia-rahasia tentang Alam”

Dari seluruh uraian di atas, terlihat betapa tatanan kosmologi kuno tersaji di hampir seluruh lini kehidupan manusia di masa lalu. Dari penamaan arah mata angin, susunan nama angka-angka, dan mungkin masih banyak lagi bentuk simbol-simbol beserta filosofinya yang belum berhasil kita ungkap.

Sebelum mengakhiri pembahasan ini, ada baiknya kita mencermati Pemahaman kosmologi orang-orang di masa kuno yang dapat kita temukan dalam bentuk hiasan symbol: Swastika. 

Kata kuno ini, berasal dari tiga akar bahasa Sansekerta “su” (baik), “asti” (ada, menjadi) dan “ka” (dibuat), yang kemudian diasumsikan berarti “membuat kebaikan “atau” penanda kebaikan (Bruce M. Sullivan. The A to Z of Hinduism. Scarecrow Press, 2001, Hlm. 216). Pemaknaan ini sudah cukup baik untuk diterima, dan sepertinya ini pula yang dipercayai berbagai budaya di dunia. 

Namun begitu, saya melihat ada bentuk pemaknaan lain yang saya pikir dapat dipertimbangkan, yaitu: “dibuat dengan sebaik-baiknya bentuk”. 

Pemaknaan ini bukan saja saya ambil dari tiga akar kata Sanskerta diatas, tetapi secara intuitif mengingatkan saya tentang Ucapan Allah dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa manusia diciptakan dalam sebaik-baiknya bentuk. (QS. At-Tin : 4: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya“). Empat lengan pada swastika merepresentasi masing-masing empat elemen (angin, air, tanah dan api) yang menjadi unsur utama mikro kosmos manusia.

Dan rasanya bukanlah suatu kebetulan jika konsep “empat” unsur yang membentuk mikro kosmos manusia, diisyaratkan Al-Quran dengan angka yang sama yakni ayat ke “empat” surat At-Tin.

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat… salam.
Tulisan ini telah pula tayang di akun saya di kompasiana. di sini: kompasiana.com/fadlyandipa
Fadly Bahari, Palopo 12 Mei 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 views