Press "Enter" to skip to content

Jejak yang Hilang dari Orang Madyan, Kaum Nabi Syu’aib yang Mendapat Azab

Last updated on November 16, 2019

Sumber: https://www.alamy.com 

Kisah Nabi Syu’aib dan orang-orang Madyan dikisahkan dalam Al Quran, pada surat Al-A’raf, ayat 85: Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syu’aib . Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman”. Bunyi ayat ini menggambarkan bahwa orang-orang Madyan adalah bangsa pedagang.

Lalu dimanakah sesungguhnya tanah orang-orang Madyan ini?

Menurut William G. Dever dalam bukunya Who Were the Early Israelites and Where Did They Come From? (Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing, 2003. hlm. 34), Tanah alkitabiah Midian terletak di Semenanjung Arabia barat laut, di pantai timur Teluk Aqaba di Laut Merah (“Hejaz”). 

Beberapa ahli berpendapat bahwa “Midian” tidak merujuk ke tempat geografis atau suku tertentu, tetapi merupakan konfederasi atau “liga” suku yang disatukan secara kolektif untuk tujuan ibadah.

Paul Haupt yang pertama kali mengajukan saran ini pada 1909, menggambarkan Midian sebagai “kolektif kultus” (Kultgenossenschaft) atau “amphictyony“, yang berarti “asosiasi (Bund) dari berbagai suku di sekitar tempat perlindungan atau tempat suci.” Elath, di ujung utara Teluk Aqaba diusulkan sebagai lokasi kuil pertama, dengan tempat perlindungan kedua yang terletak di Kadesh.

Berikut ini pernyataan William J. Dumbrell terkait pendapat ini…

Catatan alkitabiah tentang aktifitas orang Midian atau kelompok terkait pada akhir Zaman Perunggu Akhir menunjukkan mereka sebagai orang-orang yang tampak di mana-mana ditemukan tidak hanya di wilayah Horeb/ Sinai dan juga di Mesir, tetapi juga mengangkangi rute perdagangan utara-selatan, di dataran Moab, dan tampaknya, jika habitat Bileam harus ditempatkan di atau dekat Pitru kuno, … setidaknya dalam pengaruh mereka, sejauh Sungai Efrat itu sendiri. 

Jelas bahwa, bahkan bagi para penulis Alkitab, mereka adalah entitas yang sukar dimengerti dan membingungkan, yang hanya sedikit diketahui secara langsung, dimana mereka banyak dikaitkan dalam hubungannya dengan banyak kaum. 

Apa yang dikatakan tentang mereka dikatakan dalam kaitannya dengan kelompok-kelompok lain dan kepada Israel itu sendiri, di mana para penulis Alkitab secara alami jauh lebih tertarik. 

Dalam kaitannya dengan Israel dalam periode pembentukan bangsa setelah Eksodus dan pengembaraan di padang gurun, orang-orang Midian terbukti telah meninggalkan stempel sosiologis mereka pada banyak lembaga awal Israel, sementara pada saat yang sama mereka menyusup ke tingkat tertentu tetangga Israel yang berdekatan di Palestina selatan dan daerah Transyordania. 

Tetapi mereka juga terkait dengan orang Edom, orang Keni, orang Ismael, Hagar, dan Kenizz, sementara setidaknya ada hubungan dengan orang Amalek dan Moab, dan mungkin dengan Amon.(…)

Untuk menjelaskan kompleksitas penyajian alkitabiah ini, lebih dari enam puluh tahun yang lalu Paul HAUPT berpendapat, “Midian ist nicht der Name eines arabischen Stammes sondern … ein Kollektivum mit der Bedeutung Kultgenossenschaft …Es (Midian) bezeichnete die edomitische Sinai-Amphiktyonie, deren Hauptstadt Elath um Golf von ‘Akaba war’.” 

Selanjutnya, HAUPT mendefinisikan sebuah amphictyony sebagai asosiasi dari berbagai suku di sekitar tempat perlindungan, dan dia menilai bahwa kuil konfederasi umum dari Liga Midianite adalah Sinai di Elath, sedangkan utara dan barat Elath adalah tempat perlindungan Midianite kedua di Kadesh di mana kontroversi diselesaikan dan kesalahan dihukum. 

Dalam perjalanan peristiwa sejarah kemudian, Midian menjadi terbatas pada distrik Madian (c. 1200 SM), dan nama tempat ini harus berasal dari orang Midian secara kolektif dan bukan sebaliknya.

Mencermati uraian William J. Dumbrell di atas, yang menggambarkan orang Midian sebagai orang yang tidak jelas, membingungkan, dikarenakan banyak terkait dengan banyak kelompok masyarakat pada masa itu, menyiratkan suatu pemikiran bagi saya bahwa kondisi semacam itu pada umumnya hanya terjadi pada orang-orang pendatang, semacam kaum pengungsi.

Hal ini dengan sendirinya mengarahkan ingatan saya pada kisah Nabi Shu’ayb bersama pengikutnya yang terpaksa pergi meninggalkan negeri Madyan.

Saya melihat bahwa cara terbaik untuk mengungkap jati diri orang Madyan adalah dengan mencermati makna dari nama “Madyan” dan kebiasaan mereka sebagai bangsa pedagang, sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab suci.

Madyan atau Midian pada dasarnya sama. Madyan berasal dari bentuk Madya yang berarti “tengah”, sedangkan Midian nampaknya merupakan bentuk penyebutan orang eropa; Mid yang juga berarti “tengah” atau “pertengahan”. Jadi jika dikatakan negeri madyan atau negeri Midian, maka kurang lebih artinya “Negeri tengah”.

Di India ada wilayah bernama Madhya Pradesh (artinya: Negara Tengah), letaknya kebetulan memang di India tengah.

Letak Madya Pradesh di India Tengah (Dokpri)

Apakah Madya Pradesh ini wilayah Kaum Madyan di masa kuno? dengan beberapa pertimbangan kesimpulan ini tidak bisa begitu saja kita ambil.

Pertimbangan yang ingin saya ambil untuk penentuan wilayah kaum Madyan adalah dengan menganggap bahwa makna “negeri tengah” yang dikandung nama tersebut adalah merujuk pada kondisi bahwa negeri tersebut memang berada di tengah-tengah belahan bumi – antara timur dan barat.

Jika merujuk pada literatur kuno yang menyebutkan wilayah maroko sebagai Al-Mamlakah Al-Maghribiyah yang berarti kerajaan barat, dan jika di wilayah tersebut kita tempatkan titik meridian 0 derajat  (yang mana memang sejajar dengan Greenwich) maka titik garis bujur 90 derajat sebagai titik tengah belahan bumi antara timur dan barat berada di wilayah Bangladesh.

Yang menarik karena diwilayah tersebut ada toponim Madhyanagar Bazar, yang dalam bentuk Bengali adalah “Madhyanagara bajara” – Madya = tengah atau pertengahan, nagara = kota, bajara = pasar. Jadi Madhyanagar Bazar artinya: Pasar Negeri Tengah.

Letak Madhyanagar Bazar yang tepat pada garis bujur 90 derajat sangat selaras dengan identifikasi sebelumnya bahwa Madyan adalah berarti “negeri tengah”, sementara itu sebutan “Bazar” atau pasar yang melekat pada toponim tersebut sejalan pula dengan riwayat dalam kitab suci yang mengatakan bahwa bangsa Madyan adalah bangsa pedagang. 

Fakta yang terungkap di atas, menunjukkan bahwa sangat mungkin kaum Madyan yang disebutkan dalam kitab suci sebagai kaum Nabi Syu’aib  yang mendapat azab dikarenakan kecurangannya dalam kegiatan jual beli, dulunya terletak di Madyanagar Bazar, di Wilayah Negara Bangladesh saat ini. 

Dapat dibayangkan bahwa pada masa tersebut “Negeri Tengah” ini nampaknya memang benar-benar menjadi pusat perdagangan dunia – yang melayani timur dan barat. Banyaknya kecurangan transaksi yang terjadi, membuat Allah mengutus Nabi Syu’aib  untuk menyampaikan peringatan. Namun sayang peringatan itu tidak diindahkan sehingga Allah memerintahkan Nabi Syu’aib  meninggalkan negeri Madyan karena akan segera mendapatkan azab.

Berikut ini letak Madyanagar Bazar terlihat dalam peta…

Letak wilayah Madyanagar Bazar di Bangladesh (Dokpri)
Garis buju 90 derajat yang melintasi wilayah Madyanagar Bazar di Bangladesh (Dokpri)

Selanjutnya, Dalam Al Quran pada surat Asy Syu’araa ayat 176-189, dikisahkan Nabi Syu’aib berada pada kaum Aikah (mungkin terjadi setelah ia meninggalkan Madyan), peringatan yang sama tentang perihal jual beli pun disampaikan…

(26:176) Penduduk Aikah telah mendustakan rasul-rasul;

(26:177) ketika Shu’ayb berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertakwa?,

(26:178) Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.

(26:179) maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku;

(26:180) dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam.

(26:181) Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan;

(26:182) dan timbanglah dengan timbangan yang lurus.

(26:183) Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan;

(26:184) dan bertakwalah kepada Allah yang telah menciptakan kamu dan umat-umat yang dahulu”.

(26:185) Mereka berkata: “Sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari orang-orang yang kena sihir,

(26:186) dan kamu tidak lain melainkan seorang manusia seperti kami, dan sesungguhnya kami yakin bahwa kamu benar-benar termasuk orang-orang yang berdusta.

(26:187) Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.

(26:188) Shu’ayb berkata: “Tuhanku lebih mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

(26:189) Kemudian mereka mendustakan Shu’ayb, lalu mereka ditimpa azab pada hari mereka dinaungi awan. Sesungguhnya azab itu adalah azab hari yang besar.

Jadi dapat kita lihat bahwa Nabi Syu’aib diutus Allah kepada dua kaum yaitu Madyan dan Aikah, yang pada intinya memberi peringatan kepada kaum tersebut perihal kecurangan yang mereka lakukan dalam transaksi jual beli. Saya memperkirakan Madyan dan Aikah adalah dua wilayah yang berdekatan dan berada di sekitar teluk Benggala, dalam zona garis bujur 90 ̊ , yang merupakan titik tengah antara timur dan barat.

Jika dugaan ini benar, dan jika Yitro ayah mertua Nabi Musa – yang dikatakan dalam Alkitab (Keluaran 18) merupakan Imam orang-orang Midian – adalah nama lain Nabi Syu’aib, maka bisa jadi Allah mempertemukan nasib kedua Nabi ini dalam pengungsiannya masing-masing. Nabi Musa yang meninggalkan Mesir setelah membunuh di Mesir, dan Nabi Syu’aib yang dipaksa meninggalkan negerinya; Midian. 

Namun bisa juga pengungsian Nabi Syu’aib terjadi setelah itu (pengungsian Nabi Musa)… Hal ini dapat ditangkap maknanya pada kitab keluaran 18:1-12… Dalam bacaan pertama: ayah mertua Musa Yitro mendengar semua yang telah dilakukan Allah untuk orang Israel, lalu ia membawa istri Musa Zipora dan kedua putranya, yang bernama Gersom (“Aku telah menjadi orang asing di sini”) dan Eliezer (“Tuhan adalah bantuanku”) datang menemui Musa di padang gurun di Gunung Sinai di mana ia berkemah. Yitro bersukacita, Tuhan memberkati, dan mempersembahkan korban kepada Allah. 

Inilah mungkin alasan mengapa dalam Al Quran pada Surat Hud, pada ayat 84 hingga 95 mengisahkan Nabi Syu’aib dan dilanjutkan mengisahkan Nabi Musa pada ayat 96 setelahnya…

(11:84) Dan kepada (penduduk) Mad-yan (Kami utus) saudara mereka, Shu’ayb. Ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat)”.

(11:85) Dan Shu’ayb berkata: “Hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu membuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.

(11:86) Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu”

(11:87) Mereka berkata: “Hai Shu’ayb, apakah sembahyangmu menyuruh kamu agar kami meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami memperbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah orang yang sangat penyantun lagi berakal”.

(11:88) Shu’ayb berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku dari pada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya)? Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.

(11:89) Hai kaumku, janganlah hendaknya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaum Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.

(11:90) Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi Maha Pengasih.

(11:91) Mereka berkata: “Hai Shu’ayb, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami”.

(11:92) Shu’ayb menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedang Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang di belakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”.

(11:93) Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhnya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (Tuhan), sesungguhnya akupun menunggu bersama kamu”.

(11:94) Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Shu’ayb dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya.

(11:95) Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan sebagaimana kaum Tsamud telah binasa.

(11:96) Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan tanda-tanda (kekuasaan) Kami dan mukjizat yang nyata…

Dalam surat yang lain dalam Al Quran, kaum Midian ditimpakan bencana gempa…

…Kemudian mereka ditimpa gempa, maka jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di dalam rumah-rumah mereka, (Surat Al-A’raf ayat 91)

Dugaan saya bahwa orang-orang Midian yang banyak dikisahkan dalam kitab-kitab suci, yang membingungkan para ahli pada masa sekarang ini disebabkan oleh karena begitu menyebarnya mereka dalam banyak komunias masyarakat di timur tengah pada saat itu.  

Dugaan  mereka sebagai orang-orang yang berasal dari wilayah teluk Benggala, menguat, dengan didukung oleh adanya penamaan kota letak kuil suci sekaligus tempat perlindungan milik orang-orang Midian yang diidentifikasi para ahli sebagai “Kadesh” (disebut William J. Dumbrell dalam tulisannya yang telah dikutip sebelumnya). 

Kades (juga Qadesh ) adalah kota kuno di  Levant, yang terletak di atau dekat hulu atau bagian dangkal dari Sungai Orontes. Merupakan kota penting selama Zaman Perunggu Akhir, dan disebutkan dalam surat-surat Amarna (tablet Amarna). Ini  adalah tempat Pertempuran Kades yakni pertempuran yang berlangsung antara pasukan dari Kerajaan Baru Mesir di bawah Ramses II dan Kekaisaran Het bawah Muwatalli II di kota Kades di Sungai Orontes, di abad ke-13 SM.

Herodotus menyebut Kadesh berasal dari bahasa Arab “Al Kads” yang artinya “suci”…

The Arabian name is Al Kads, the Holy ; it is sometimes also called Kadesh. Herodotus again mentions it (Thalia, c. 5) as a city of Palaestine, not much less than Sardis (The History of Herodotus vol. I – Explanatory and Critical from: Larcher, Rennell, Mitford, Schweighaeuser. Oxford: Talboys and Wheeler, 1824. hlm. 201)

Sementara itu dari sumber yang lain menganggap nama Kadesh berakar dari bahasa Semit Barat (Kanaan) QD-S yang artinya “suci”. Yang diterjemahkan sebagai “Qdsw” di Mesir, dan “Kades” di Hittite . Dengan varian ejaan Akkadian, termasuk Kinza, Kidsa, Gizza.

Dalam pandangan saya, besar kemungkinan Ka-desh berasal dari bahasa India: “ek”  yang berarti “sebuah” ; “Desh” yang berarti “Negara” – yang dengan demikian Kadesh dapat diartikan sebagai “Sebuah Negara”, atau dari bahasa Bengali “Ekaṭi”  yang berarti “sebuah” ; “Desa” yang berarti “Negara” – yang dengan demikian Kadesh dalam bahasa Bengali juga dapat diartikan sebagai “Sebuah Negara”. Atau bisa juga dengan bentuk yang lain dari bahasa India; “Gae Desh” yang artinya kurang lebih “Negara yang hilang”.

Menerjemahkan nama Kadesh sebagai berasal dari bahasa India atau pun Bengali, bersenyawa dengan bentuk hipotesis bahwa orang-orang Madyan ini berasal dari wilayah teluk Benggala pada mulanya.

Demikianlah, betapa cerita perjalanan orang-orang Midian atau Madyan ini sungguh berliku dalam skenario dan pada rentang waktu yang sangat panjang hingga berabad-abad. 

Mereka banyak terlibat dalam pergumulan politik dan perebutan kekuasaan yang tejadi di antara penguasa-penguasa kawasan Timur Dekat pada saat itu. 

Peliknya upaya para ahli selama ini dalam mengidentifikasi asal usul mereka, saya pikir telah dapat terselesaikan – tentunya jika teori yang saya ajukan dapat diterima – bahwa dengan mengidentifikasi nama kaum mereka sebagai berasal dari kata “Madhya” atau  “Madhyanagar” telah menjadi jalan pembuktian eksistensi mereka sebagai orang-orang dari “Negeri Tengah”.

Jejak yang mereka tinggalkan di wilayah levant pada nama kota mereka “Kadesh” (yang jelas bercorak bahasa India) dapat dianggap sebagai bukti yang sangat mengkonfirmasi teori asal usul mereka. 

Di sisi lain, adanya nama mereka disebut dalam kitab-kitab suci, sebagai kaum yang dikatakan melakukan kecurangan dalam kegiatan perdagangan – membuat benang merah tersendiri kearah bentuk kata “Bazar” yang terdapat dalam toponim Madhyanagar Bazar – hal yang selanjutnya membantu kita memiliki pemahaman bahwa pada masa kuno itu, Negeri Tengah adalah pusat perdagangan dunia yang melayani sisi timur dan barat.

Sekian. Semoga bermanfaat… salam.
Tulisan ini juga telah tayang di akun saya di Kompasiana. di sini:  kompasiana.com/fadlyandipa
Fadly Bahari, Belopa 26 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 views