Press "Enter" to skip to content

“Jejak Kuno” Unsur Nusantara di Kawasan Laut Merah dan Afrika Utara

Last updated on November 16, 2019

Peta kawasan Laut Merah dan Afrika Utara (sumber: http://www.emersonkent.com )

Dalam tulisan sebelumnya (Hubungan Nusantara dan Tanah Punt), telah saya urai beberapa fakta mengenai adanya hubungan Nusantara dan Mesir pada masa Kuno.

Misalnya tentang identifikasi saya terhadap daerah bernama ‘Iuu’ yang ditemukan tertulis dalam prasasti di dinding kuil Speos Artemidos di Mesir tengah. Yang hingga kini belum teridentifikasi letaknya oleh para ahli peneliti Sejarah Mesir kuno. 

Untuk hal ini, saya menduga kata ‘Iuu’ tersebut memiliki keterkaitan dengan kata Eoos, Eous, atau Eos yang sempat dibahas Prof. Arysio Santos dalam bukunya Atlantis, The Lost Continental Finally Found. 

Menurut Prof. Santos, kata Eoos atau Eous (Eoos dalam bahasa Yunani, Eous dalam bahasa Latin) – sama artinya dengan kata ‘Dawn’ dalam bahasa Inggris atau pun ‘fajar’ dalam bahasa Indonesia. lebih lanjut ia menyebutkan bahwa Nama tersebut juga ditujukan untuk makna “orang Timur” atau “Oriental”, dan kerap digunakan sebagai sebutan untuk Indonesia. (Prof. Arysio Santos. Atlantis:  Hlm. 457)

Adapun dugaan saya bahwa ‘Iuu’ ada keterkaitan dengan Eoos atau Eous, didasari oleh fakta bahwa kebanyakan pengucapan bahasa Yunani klasik memberi akhiran s di akhir kata, seperti: Barbar yang dalam Yunani klasik diucapkan [b a r – ba – ros], atau Nusa yang diucapkan [ne – sos / ni.sos]. 

Dalam bahasa Tae’ sendiri, juga dikenal kata “Esso” yang berarti “hari”. Saya pikir, kata Esso dalam bahasa Tae’ ini juga ada keterkaitan dengan Eoos, sebagaimana yang diungkap oleh Prof. Santos bahwa Eoos, Eous, atau Eos, berarti : fajar /pagi/  atau awal hari, dalam bahasa Indonesia. 

Dalam bahasa kaili sendiri, terdapat kata’eo’ yang berarti: hari atau matahari. Untuk diketahui, suku Kaili adalah suku yang memiliki budaya cukup unik. Mereka mendiami beberapa wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah. 

Jadi, dapat diperkirakan jika antara ‘Esso’ dalam bahasa tae’, ‘Eoos’ dalam bahasa Yunani, ‘Eous’ dalam bahasa Latin, ‘Eo’ dalam bahasa suku Kaili, dan ‘Iuu’ yang terdapat dalam prasasti Mesir kuno, telah terjadi fenomena morfologi bahasa – terutama perubahan pada struktur fonetis. Namun demikian, makna kata tidak bergeser jauh. 

Dari kesemua kata tersebut, nampak bahwa kata ‘Eo’ lebih identik bentuknya ‘Iuu’, sementara kata ‘Esso’ lebih identik bentuknya dengan ‘Eoos’ dan ‘Eous’.

Dengan demikian, berlandaskan dari seluruh uraian di atas, yang menunjukkan bahwa kata ‘Iuu’ dapat berarti: Fajar/awal hari/ atau pagi, maka saya menduga bahwa daerah ‘Iuu’ yang tidak teridentifikasi oleh para ahli peneliti sejarah Mesir kuno selama ini, kemungkinan besarnya ada di wilayah Nusantara hari ini. Yaitu nama lain untuk penyebutan kawasan ‘negeri sabah’ atau ‘negeri pagi’ (‘sabah’ dalam bahasa arab berarti ‘pagi’, merupakan bentuk morfologi untuk kata subuh dalam bahasa Indonesia). 

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai asal usul adanya penyebutan ‘Negeri pagi’, yakni wilayah yang masuk dalam zona pagi menurut pembagian wilayah di muka bumi pada masa kuno, silahkan baca tulisan saya lainnya: Pembagian Zona Waktu di Masa Kuno. Pembagian wilayah tersebut merujuk pada posisi matahari di langit. Ini merupakan salah satu peninggalan budaya Bangsa Matahari (Wangsa Surya) dari masa kuno.

Dalam Tulisan sebelumnya (Hubungan Nusantara dan Tanah Punt), juga telah saya ungkap adanya keidentikan nama pelabuhan Mesir kuno di wilayah laut merah: Saww (pengucapan: Sauu), dengan kata “Sauh” dalam bahasa Indonesia yang berarti “jangkar”, serta kata “Sau” yang dalam bahasa Tae’ berarti “melepas”. Antara ketiga kata ini jelas terlihat adanya keterkaitan satu sama lain.

Kaitan ketiga tersebut dapat kita gambarkan dalam uraian sebagai berikut: Pelabuhan (Saww) – adalah tempat melepas (Sau) – jangkar (Sauh).

Fenomena bahasa, dimana satu kata memiliki makna yang berbeda  tergantung pada bentuk kalimat mana ia diletakkan, atau pun memiliki makna yang secara logis dapat dicermati memiliki keterkaitan satu sama lain, pada dasarnya umum terjadi. Dengan demikian, kata ‘Saww’, ‘sauh’ dan ‘sau’, bisa jadi adalah satu kata yang sama, yang memiliki makna beragam, bergantung pada bentuk kalimat mana ia digunakan. 

***

Di tempat lain di Kawasan Laut merah, terutama di wilayah Afrika Utara, Jejak unsur bahasa Nusantara saya identifikasi nampaknya juga terdapat dalam nama etnis setempat, yaitu: orang Berber , atau disebut juga Tamazighs (Daniel Don Nanjira. African Foreign Policy and Diplomacy from Antiquity to the 21st. Volume 1 : 2010)

Orang Berber sendiri menyebut diri mereka i-Mazigh-en, yang artinya “orang bebas” atau “orang mulia.” (Peter Prengaman. Morocco’s Berbers Battle to Keep From Losing Their Culture. San Francisco Chronicle. March 16, 2001) – Saya melihat adanya bentuk tradisi Bugis dalam bentuk penamaan tersebut. 

Dengan seluruh uraian ini, tergambar pada kita kemungkinan adanya hubungan yang sangat erat antara orang-orang di Nusantara (khususnya orang Bugis) dan orang-orang Berber jauh pada masa lalu. Tidak kita temukannya catatan-catatan kuno yang membahas hubungan antara keduanya di masa lalu, bukan berarti hubungan itu tidak ada, tapi lebih karena peristiwa tersebut telah terjadi ribuan tahun yang lalu. Mungkin jauh sebelum masa hadirnya orang-orang Yunani yang memulai kebiasaan mencatat, seperti; Hesiod, Pindar, Theopompos, Orpheus, Apollonius, Diodorus, Siculus, Aelian, Strabo, Plutarch, Ovid, Pliny, ataupun Plato, dan masih banyak lagi.

Menurut Prof. Santos (Atlantis: hlm. 168), kaum Berber (Tamazigh) adalah tergolong bangsa yang lebih konservatif mempertahankan bahasa mereka hingga tidak berubah untuk beberapa millennium — terbukti bahasa mereka hanya sedikit sekali mengalami perubahan selama lebih dari 8.000 tahun terakhir.

Beruntungnya karena keterkaitan-keterkaitan suku bangsa di masa lalu tersebut, terekam dalam wujud bahasa. Bahasa sebagai variabel yang tak terpisahkan dari budaya sesungguhnya merupakan media perekam yang sangat efektif — dapat bertahan dalam kurun waktu yang sangat lama — dan sulit bahkan bisa dikatakan mustahil mendapat intervensi dari pihak-pihak tertentu yang ingin memanipulasinya. 

Karena itu, saya melihat bahwa sesungguhnya bahasa merupakan artefak sejarah yang paling otentik. Pemahaman ini, dari sisi tertentu, dapat dikatakan mengkonfirmasi ungkapan Wilhelm von Humboldt: “…karakter dan struktur suatu bahasa mengekspresikan kehidupan batin dan pengetahuan dari para penuturnya (…) Suara-suara tidak menjadi kata-kata sampai sebuah makna dimasukkan ke dalamnya, dan makna ini mewujudkan pemikiran suatu komunitas. (The Encyclopaedia Britannica, Ninth Edition Vol-XII)

Demikianlah, kata Mazigh dalam komunitas Berber dan kata Masiak dalam komunitas Bugis bercerita kepada kita pada hari ini bahwa mereka memiliki makna yang sama.

Jika hal ini dirujuk pada pernyataan Humboldt, maka kita tidak bisa menghindar dari pemikiran bahwa mereka mungkin berasal dari satu komunitas yang sama pada mulanya. Setidaknya, itu mungkin terjadi di suatu waktu jauh di masa lalu.

Lebih lanjut, Suatu info menarik lainnya, saya temukan dalam buku John A. Shoup: Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia, yang membahas mengenai ‘suku Tuareg’ yang merupakan penutur bahasa Berber yang tinggal di Aljazair selatan, Mali, Niger, Burkina Faso, dan jauh di barat daya Libya. 

Nama ‘Tuareg’, atau lebih tepatnya ‘Tuwariq’, adalah merupakan nama yang diberikan orang lain kepada mereka. ‘Tuareg’ menyebut diri mereka ‘Kel Tamasheq’, yang berarti penutur Tamasheq atau ‘Kel Tagulmust’ yang artinya ‘orang terselubung’, yaitu merujuk pada sorban besar atau talgumust yang dikenakan oleh para pria. 

Dalam buku Ethnic Groups of Africa and the Middle East: An Encyclopedia dikatakan bahwa Berber tampaknya telah berpisah dari keluarga utama sekitar 9.000 tahun yang lalu ketika bangsa Berber bermigrasi ke barat ke Afrika Utara dari Lembah Nil. Uraian bisa dibaca di sini.

Hal yang menarik dari info di atas adalah kenyataan bahwa nama Tuareg atau Tuwariq sangat mirip dengan nama to ware di Luwu. Dalam tradisi Luwu kata ‘Wara’ adalah sebutan untuk pusat Kerajaan atau kedatuan Luwu (Kota Raja). Sehingga orang-orang Luwu yang paham hal ini akan menyebut dirinya sebagai ‘To Ware’ yang dengan demikian bisa dimaknai sebagai ‘orang asli Luwu’.

Jika dugaan saya benar bahwa Tuwariq yang bermukim di wilayah Afrika Utara terkait dengan To Ware di Luwu, maka ini mengkonfirmasi uraian saya mengenai etimologi Ta-mazight, dan adanya keterkaitan mereka dengan Luwu pada masa lalu. 

Bahkan, hipotesa yang lebih jauh datang dari Helene E. Hagan dalam bukunya The Shining Ones: An Etymological Essay on the Amazigh Roots of Egyptian Civilization yang sepertinya menghubungkan Tuareg atau Tuwariq dengan peradaban Mesir kuno awal — ini pun juga bisa dikatakan mengkonfirmasi dugaan adanya hubungan Nusantara dengan Mesir kuno, terutama terkait dengan nama pelabuhan Mesir kuno, Saww atau Sauu yang sangat identik dengan kata sauh yang dalam bahasa Indonesia berarti jangkar, dan kata sau yang dalam bahasa tae berarti “melepas”.

Berdasarkan keseluruhan uraian di atas yang sangat kuat menunjukkan adanya jejak unsur budaya Nusantara di Kawasan Laut Merah dan Afrika utara hingga Afrika barat pada masa kuno, maka sebagai pembahasan dibagian akhir dari tulisan ini, saya ingin mengajak pembaca untuk mencermati upaya identifikasi toponim Tanah Punt berikut ini…

Identifikasi Toponim Tanah Punt 

Dalam upaya mengidentifikasi tanah Punt yang misterius dan melegenda itu, saya melihat bahwa salah satu jalan yang bisa dilakukan adalah dengan meninjaunya secara fonetis, dengan membandingkan bentuk penyebutannya dalam bahasa Mesir dan Yunani.

Dalam Bahasa Mesir kuno Punt tertulis: ‘pwnt’ dengan alternatif Egyptological pembacaan ‘Pwene(t)’ – yang diperkirakan mengacu pada bentuk ‘Opone’. Bentuk ‘Opone’ ini identik dengan bentuk penyebutan ‘punt’ oleh orang Yunani kuno: ‘Oponi’. (James Henry Breasted: Ancient Records of Egypt: 1906) 

Dari beberapa bentuk di atas, antara: ‘punt’ – ‘pwnt’ – ‘opone’ – ‘oponi’ , maka bentuk kata ‘poni’ bisa jadi adalah merupakan bentuk asli dari kesemuanya. Dapat kita lihat bahwa bentuk ‘punt’ dan ‘pwnt’ tidak menggunakan foneti di bagian depan, sementara itu bentuk ‘opone’ dan ‘oponi’ tidak menggunakan fonetis di bagian belakang.

Dalam hal ini, saya menduga fonetis pada bentuk Mesir, dan fonetis pada bentuk Yunani kuno, pada dasarnya muncul dari bentuk bunyi penyebutan atau aksen dari wilayah bersangkutan. Sehingga jika bentuk aksen tersebut kita hilangkan maka yang tersisa adalah bentuk: ‘PONI’.

Demikianlah, dengan mempertimbangkan  keseluruhan hasil identifikasi yang telah dibahasa sejak bagian awal tulisan ini, kuat dugaan saya jika letak sesungguhnya dari ‘tanah Punt’ adalah di Pulau Sulawesi. 

Kata ‘PONI’ sebagai hasil identifikasi bentuk asli dari nama ‘Punt’, bisa jadi merujuk pada nama teluk Bone, yang pada peta terbitan eropa umumnya tertulis: ‘gulf of Boni’.

Bahkan, jika kita mengamati bentuk Yunani Kuno untuk nama bangsa Phoenicia (Bangsa pelaut yang melegenda di masa kuno), yaitu: ‘Phoinike’, bisa jadi terkait pula dengan nama ‘Poni’ atau ‘Boni’ di pulau Sulawesi, tempat asalnya pelaut-pelaut ulung Nusantara. Yang dalam buku “The History of Java” Thomas Stamford Raffles menggambarkan kehebatan mereka dalam menavigasi pelayaran antar benua.

Setidaknya hipotesis ini senada pula dengan apa yang diungkap Antropolog Gene Ammarell (direktur Southeast Asia Studies di Ohio University) dalam bukunya “Navigasi Bugis” yang mengatakan bahwa: “tradisi melaut orang Bugis mungkin yang terbesar di dunia, aktor utama diaspora Austronesia.” 

Gene Ammarell juga mengatakan bahwa capaian navigasi tersebut merentang setidaknya sejak 5 milenium lalu dan melingkupi dua per tiga bumi, sebelum perahu-perahu Eropa berlayar melampaui Samudera Atlantik. (Gene Ammarell. Navigasi Bugis: 2014, 2016)

Tidak ketinggalan Yuval Noah Harari mengungkap pula hal yang senada dalam bukunya “sapiens”Teori yang paling masuk akal mengajukan bahwa sekitar 45.000 tahun lalu, Sapiens yang hidup di Nusantara (sekelompok pulau yang terpisah dari Asia dan dari satu sama lain hanya oleh selat-selat sempit) mengembangkan masyarakat-masyarakat pelaut pertama. Mereka belajar bagaimana membangun dan mengendalikan perahu untuk mengarungi laut lalu menjadi nelayan, saudagar, dan penjelajah jarak jauh. (Yuval Noah Harari. Sapiens :  2017, hlm. 77)

Sekian. Semoga bermanfaat. salam.

Tulisan ini juga telah tayang di akun saya di Kompasiana. di sini: kompasiana.com/fadlyandipa
Fadly Bahari, Palopo 27 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

9 views