Press "Enter" to skip to content

Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Ho-ling Terletak di Sulawesi

Last updated on November 2, 2019

Pemakaman di Kete Kesu, Toraja (Sumber: travelmarbles.com)

Dalam kesempatan ini, saya ingin menjabarkan suatu hasil upaya identifikasi berita dari kronik Cina (terutama dari masa dinasti Tang) tentang kerajaan Ho-ling, yang menunjukkan keidentikan dengan berbagai hal yang terdapat di pulau Sulawesi. 

Upaya identifikasi tersebut meliputi tinjauan kebiasaan masyarakat Ho-ling yang dikabarkan dalam kronik Cina (tinjauan antropologi), toponim atau penamaan wilayah (tinjauan linguistik), keunikan kawasan atau wilayah tertentu (tinjauan geografis) hingga penyebutan nama penguasa yang identik nama Raja/Datu dalam silsilah kedatuan Luwu, yakni: Simpurusiang dan Tampa Balusu (genealogi).

Menurut catatan Chiu T’ang shu (197: 3a) atau Old Tang History, Ho-ling terletak di sebuah pulau di selatan. Menurut Hsin Tang shu (222C: 3b) atau New Tang History, Ho-ling terletak di laut selatan menghadap Po-li di timur dan to-p’o-teng di barat. Kedua teks tersebut menyamakan Ho-ling dengan She-po.

Hirth dan Rockhill (Chao Ju-kua, p. 60) menyimpulkan bahwa Ho-ling adalah Jawa bagian barat dan mengusulkan bahwa nama itu adalah transkripsi dari Kalinga di India, dari mana para pemukim Hindu di Jawa sebagian besar dianggap berasal.

Namun, Gerini menempatkan negara itu di Semenanjung Melayu, sementara Schafer dalam “The Golden Peaches of Samarkand (p. 67) menyebutnya Kalinga dan menganggapnya sebagai sebuah negara di Jawa.

Hans Bielenstein (2005) dalam bukunya Diplomacy and Trade in the Chinese World, 589-1276, mengatakan Mungkin saja K’o-ling (Ho-ling) ada di Jawa, yang dalam hal ini adalah pendahulu She-po. 

Namun, catatan menunjukkan bahwa periode mereka tumpang tindih. Pelliot mencatat pengiriman utusan dari Ho-ling ke Tiongkok terjadi pada tahun 640 sampai 648, 666, 767, 768, 813, sampai 815 dan 818. Selama masa itu, tidak ada penyebutan nama She-po.

Kronik Cina dari zaman dinasti Sung Awal (420-470 M) ada menyebut nama She-po, yang berarti muncul sebelum masa pencatatan Ho-ling, lalu muncul kembali pada tahun 820 sampai tahun 856 M, yakni setelah nama Ho-ling tidak disebutkan lagi. Hal ini menunjukkan bahwa utusan Ho-ling ataupun She-po dianggap sama oleh orang-orang Cina.

She-p’o: Menurut Sung shih (489: 15b) dan Wen-hsien t’ung-k’ao (332: 14b), terletak di laut selatan. Menurut Chao Ju-kua (1170–1228) seorang pemeriksa pabean di kota Quanzhou di Tiongkok pada masa Song akhir, She-po dapat dicapai dari Chuan-chou (Quanzhou) setelah perjalanan laut sekitar sebulan.

Sejarawan pada umumnya menganggap She-po adalah sebutan untuk Jawa, namun demikian, terdapat pula pendapat bahwa She-po yang dalam catatan Arab disebut Zabaj, adalah suatu tempat di Sumatera, Semenanjung Melayu, Kalimantan, dan Nusantara secara umum. Sehingga dapat dikatakan bahwa letak Ho-ling atau She-po pada dasarnya masih menjadi bahan perdebatan di antara para sarjana.

Slamet Muljana misalnya dalam buku Sriwijaya, mengatakan: Sudah terang bahwa pada zaman I-ts’ing, nama Jawa itu sudah dikenal di kerajaan Sriwijaya, karena pada piagam Kota Kapur yang dikeluarkan pada tahun 686 telah disebutkan bahwa “tentara Sriwijaya berangkat ke bhumi Jawa.” Tentunya I-Ts’ing juga mengenal piagam tersebut, setidak-tidaknya pernah mendengar nama Jawa, karena ia lama menetap di Sriwijaya. Lagi pula ia adalah orang yang mengagumi Fa-hien, padahal Fa-hien yang berangkat dari Tiongkok pada tahun 414 telah menyebut Jawadi, dan pada zaman dinasti Sung yang pertama (420-578), telah disebut pula nama Yawada; maksudnya Yawaswipa. 

Suatu kenyataan ialah bahwa I-Tsing menyebut Ho-ling. Andaikata yang dimaksud oleh I-Tsing adalah Jawa, pasti ia akan berusaha mendeskripsikan nama Jawa itu dengan ucapan Tionghoa yang mirip. Demikianlah, mungkin sekali bahwa yang dimaksud dengan Ho-ling itu memang bukan pulau Jawa.

Catatan I-Tsing tentang Ho-ling

Pada abad ke-7, kerajaan Ho-ling memegang peranan penting dalam hal budaya dan keagamaan. Hal ini sebagaimana yang dicatat I-Tsing (seorang bhiksu Buddha Tionghoa yang mengunjungi Nusantara dan menetap 6-8 bulan pada tahun 671, sebelum kemudian melanjutkan perjalanannya ke India), dalam bukunya “Ta-t’ang-si-yu-ku-fa-kao-seng-ch’uan,” yang disusunnya pada tahun 691-692, kemudian diterjemahkan Prof. Chavannes (1894) ke dalam bahasa Perancis dengan judul “Memoire a l’epoque de la grande dynastie Tang sur les religieux eminents qui allerent chercher la Loi dans les pays d’Occident.

Dalam memoire.., I-Tsing mencatat bahwa seorang Pendeta Tionghoa Hwuai-ning pada tahun 644/645 secara khusus berangkat dari Tiongkok menuju Ho-ling untuk menerjemahkan bagian penutup Nirwanasutra, yang menguraikan pembakaran jenasah Buddha dan pengumpulan peninggalan-peninggalannya. (Slamet Muljana: Sriwijaya, 1960; 2006; 2008; 2011).

Dalam masa tiga tahun (664/5 – 667/8) upaya penerjemahan tersebut, Pendeta  Hwuai-ning bekerjasama dengan seorang pendeta Ho-ling bernama Yoh-na-po-to-lo, yang kemudian oleh banyak sejarawan ditafsirkan sebagai Jnanabhadra sebagai bentuk nama Sanskerta.

Ketika penerjemahan itu selesai, Hwui-ning memerintahkan pendeta muda Yun-ki untuk membawanya pulang ke Tiongkok. Setelah Yun-ki menyelesaikan tugasnya, ia berlayar kembali ke Ho-ling.

Sesampainya di Ho-ling, Pendeta Hwui-ning telah berangkat ke India. Selanjutnya Yun-ki tinggal sepuluh tahun di negeri laut selatan (Ho-ling), menjadi murid Yoh-na-po-to-lo (Jnanabhadra). Ia mempelajari bahasa Ku-lun dan paham bahasa Sanskerta.

Ketika I-Tsing menulis bukunya, Memoire, Yun-ki tinggal di Shih-li-fo-shih dan berumur 30 tahun. (Slamet Muljana, Sriwijaya).

Di dalam buku I-Tsing lainnya, “Nan-hai-chi-kuei-nai-fa-chu’an,” yang kemudian diterjemahkan J. Takakusu (1896) ke dalam bahasa Inggris dengan judul “A Record of the Buddhist Religion as Practiced in India and the Malay Archipelago,” terdapat petunjuk mengenai letak kerajaan Ho-ling, walaupun bisa dikatakan samar-samar.

Dalam buku tersebut (Record…), I-Tsing merinci beberapa nama negeri di Nusantara dari posisi arah barat ke timur, yang kemudian oleh Takakusu, dalam buku terjemahannya, mengidentifikasi nama negeri dengan penulisan Hanzi tersebut sebagai transkripsi nama wilayah tertentu di Nusantara. Berikut kutipannya…

Dicapture dari buku A Record of the Buddhist Religion as Practiced in India and the Malay Archipelago, hlm. 10 (Dokumen Pribadi)

Dari perincian nama negeri yang disebutkan I-Tsing, nampak hanya Po-lu-shi, Mo-lo-yu, dan Mo-ho-sin yang mudah diidentifikasi. Po-lu-shi adalah Barus, Mo-lo-yu adalah Melayu, dan Mo-ho-sin adalah Banjar Masin. Nama negeri selebihnya kemudian menjadi bahan perdebatan para ahli.

Berita-berita dari zaman Dinasti tang 

Catatan dari Dinasti Tang dikenal ada dua versi. yakni Ch’iu-T’ang shu dan Hsin T’ang shu (618-906 M).

Dalam buku Sejarah Nasional Indonesia – Zaman kuno (edisi pemutakhiran, 2008) dirangkum Berita tentang Holing sebagai berikut…

Ho-ling juga disebut She-po, terletak di laut selatan. disebelah timurnya terdapat Po-li dan di sebelah baratnya terletak To-po-teng. Di sebelah selatannya adalah lautan, sedang di sebelah utaranya terdapat Chen-la.

Tembok kota dibuat dari tonggak-tonggak kayu. Raja tinggal di sebuah bangunan besar bertingkat, beratapkan daun palem (?), dan ia duduk di atas bangku yang terbuat dari gading. Dipergunakan pula tikar yang terbuat dari kulit lembu. Kalau makan, orang tidak menggunakan sendok atau sumpit, tetapi dengan tangan saja. Penduduknya mengenal tulisan dan sedikit tentang ilmu perbintangan.

Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas dan perak, cula badak, dan gading. Kerajaan ini amat makmur; ada sebuah gua (?), yang selalu mengeluarkan air garam.

Penduduk membuat minuman keras dari bunga kelapa (atau bunga aren). Bunga pohon ini panjangnya dapat mencapai tiga kaki, dan besarnya sama dengan tangan orang. Bunga ini dipotong, dan airnya ditampung dijadikan minuma keras; rasanya amat manis, tetapi orang cepat sekali mabuk dibuatnya. 

Di Ho-ling banyak perempuan yang berbisa; apabila orang mengadakan hubungan kelamin dengan perempuan-perempuan itu, ia akan luka-luka bernanah dan akan mati, tetapi mayatnya tidak membusuk.

Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut. Apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, da panjangnya dua kaki empat inci.

Dalam masa Chen-kuan (627-649 M), raja Ho-ling bersama dengan raja To-ho-lo dan To-po-teng, mengirimkan utusan ke CIna menyerahkan upeti. Kaisar memberikan surat jawaban dengan dibubuhi cap kekaisaran, dan ketika utusan To-ho-lo meminta kuda-kuda yang baik, permintaan itu dikabulkan oleh Kaisar.

Utusan dari Ho-ling datang lagi pada tahun-tahun 666, 767, dan 768. Utusan yang datang pada tahun 813 M (atau 815 M) mempersembahkan empat budak Sheng-chih (jenggi), burung kakatua yang bermacam-macam warnanya, burung p’in-chia (?),  dan benda-benda yang lain. Kaisar sangat berkenan hatinya, dan memberikan anugerah gelar kehormatan kepada utusan itu. Utusan itu mohon agar gelar itu diberikan saja kepada adiknya. Kaisar amat terkesan akan sikap itu, dan memberi anugerah gelar kehormatan kepada keduanya.

Pada tahun 674 M rakyat kerajaan itu menobatkan seorang perempuan sebagai ratu yaitu ratu Hzi-mo [Sima]. Pemerintahannya meskipun sangat keras akan tetapi adil.

Barang-barang yang terjatuh di jalan tidak ada yang berani menyentuhnya. Pada waktu raja orang-orang Ta-shih mendengar berita semacam itu, ia mengirim pundi-pundi berisi emas untuk diletakkan di jalan di negeri ratu Hsi-mo. Setiap orang yang melewatinya menyingkir; sampai tiga tahun pundi-pundi itu tidak ada yang menyentuhnya. 

Pada suatu hari putra mahkota yang lewat di situ tanpa sengaja telah menginjaknya. Ratu sangat marah, dan akan memerintahkan hukuman mati terhadap putra mahkota.

Para menteri mohon pengampunan baginya. Akan tetapi, ratu mengatakan bahwa karena yang bersalah adalah kakinya, kaki itu harus dipotong. Sekali lagi para menteri mohon pengampunan; akhirnya ratu memerintahkan agar jari-jari kaki putra mahkota itu yang dipotong, sebagai peringatan bagi penduduk seluruh kerajaan. Mendengar hal itu raja Ta-shih takut dan mengurungkan niatnya untuk menyerang kerajaan ratu Hsi-mo.

Dalam berita Cina lainnya ( masih dari masa dinasty Tang), disebutkan bahwa raja Ho-ling tinggal di kota She-p’o (She-p’o-tch’eng), tetapi leluhurnya yang bernama Ki-yen telah memindahkan pusat kerajaan ke timur, ke kota P’olu-chia-ssu. 

Menurut Berita dalam Ying-huan-tchelio perpindahan itu terjadi dalam masa T’ien-pao, yakni disekitaran tahun 742-755 M (BEFEO/ 4/ 1904 – Paul Pelliot, “Deux itineraires…”, hlm 225).

L-C. Damais menyebutkan bahwa berita perpindahan itu termuat dalam Yuan-che-lei-pin yang ditulis pada tahun 1669 M, dan bahwa perpindahan itu terjadi dalam masa T’ien-pao, antara tahun 742 dan 775 M atau tahun 664 dan 667 Saka (L-C. Damais, BEFEO, LII, fasc. 1, 1964, hlm. 138).

Di sekeliling She-po ada 28 kerajaan kecil, dan tidak ada diantaranya yang tidak tunduk. Ada 32 pejabat tinggi kerajaan, dan yang terutama di antara mereka ialah ta-tso-kan-hsiung (W. P. Groeneveldt, Historical Notes, hlm. 12-15).

demikianlah berita tentang Ho-ling yang terdapat dalam kronik dari masa dinasti Tang.

Interpretasi berita-berita dari masa dinasti Tang

Secara umum saya mengidentifikasi bahwa Kerajaan Ho-ling berada di pulau Sulawesi. Ini didasari oleh karena beberapa fakta terkait Ho-ling yang disebutkan dari kronik cina (dinasty Tang) pada kenyataannya teridentifikasi berada di pulau ini.

Namun sebelum saya membahasa satu demi satu fakta tersebut, terlebih dahulu saya ingin menjelaskan suatu toponim kuno bernama “karatuan” yang menunjukkan keidentikan dengan dengan kata “kadatuan”. Perbandingan keidentikan antara bentuk kata “karatuan” dan “kadatuan” secara jelas kiranya dapat kita lihat pada bentuk kata “kraton” dan “kdaton”.

Karatuan jelas berasal dari akar kata “Ratu” demikian pula kadatuan berasal dari akar kata “Datu”, dan bahwa hal ini merupakan wujud dari perubahan antara fonetis dan d.

Di sisi lain, dalam beberapa prasasti, nama Sriwijaya biasanya ditulis dengan sebuatan “Kadatuan Sriwijaya”.

Toponim “Karatuan” Saya temukan digunakan di 3 tempat di Sulawesi Selatan, yaitu: pertama, terdapat toponim “karatuan” di kecamatan basse sang tempe – kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; kedua, toponim “karatuang” di Tappalang, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat; ketiga, toponim “karatuang” di kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Toponim Karatuan di wilayah Basse Sang Tempe, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. (Dokpri)

Keberadaan toponim “Karatuan” di Bassa Sang tempe’ (Kabupaten Luwu) sebagai pusat kedatuan di masa lalu, sejalan dengan adanya cerita lisan yang tersebar luas di wilayah Luwu ataupun Toraja bahwa Raja-raja di Sulawesi Selatan (Luwu, Toraja dan Gowa) berasal dari tabang di kaki Gunung Sinaji yang masih berada di wilayah Basse Sang Tempe’.

Toponim Karatuang di wilayah Tappalang, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat. (Dokpri)

Sumber informasi terkait toponim “karatuang” di Mamuju, Sulawesi Barat, sejujurnya sangat minim. Namun begitu, informasi dari blog ahriadialsap.blogspot.com rasanya dapatlah untuk dipertimbangkan. 

Dalam blog tersebut termuat kisah bahwa: pada zaman dahulu sekitar abad XII masehi,seorang laki laki yang dikenal dengan nama TAMBULI BASSI bersama sejumlah rombongan yang lengkap dengan berbagai perangkatnya, melakukan perjalanan berangkat dari tabulahang melalui TANETE TAMBOTTU (gunung yang tidak terputus) hingga akhirnya tiba di suatu tempat yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan nama KARATUANG, tepatnya di sebuah kaki bukit dusun tamao desa TAMPALANG.

Di tempat inilah berakhirnya perjalanan nenek TAMBULI BASSI dengan menancapkan tongkatnya yang terbuat dari bambu emas sambil berkata dalam dialek rumpun bahasa PUS (PITU ULUNNA SALU) : “diami inde tampa’ lalangtaq” atau disinilah ujung perjalanan kita, jadi TAMPALANG atau TAPPALANG adalah ujung jalan.

Toponim Karatuang di Wilayah kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. (Dokpri)

Sementara itu, Toponim “Karatuang” di Bantaeng, oleh orang-orang di Bantaeng dikenal sebagai salah satu perkampungan tua yang sarat nilai sejarah. Ini sejalan dengan apa yang diungkap oleh Bupati Bantaeng, Ilham Azikin, ketika pada masa kampanyenya berkunjung ke wilayah tersebut, dan menyebutkan bahwa “Karatuang adalah salah satu sentra perkembangan budaya di Bantaeng”. Dalam kesempatan kunjungan Bapak Ilham Azikin itu warga Karatuang memperlihatkan satu-satunya kereta kencana kerajaan. (sumber berita: fajar.co.id)

sebenarnya masih ada satu lagi, yakni kampung Karataun di kecamatan Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat. Saya pikir bentuk sebenarnya dari Karataun ini adalah Karatuan.

Toponim Karataun yang identik dengan bentuk Karatuan, yang terdapat di wilayah Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat (Dokpri)

Bagi para Arkeolog nama Kalumpang tentu tidak asing lagi. Karena di wilayah ini ditemukan banyak peninggalan budaya Neolitik.

Perhatian dunia Internasional terhadap wilayah Kalumpang telah berlangsung sejak 1935. Ketika P.V. Van Stein Callenfels mempresentasikan hasil ekskavasinya di Bukit Kamasi pada 1933 dalam The Second Congress of Prehistorians of the Far East di Manila (Callenfels 1951). Kemudian Callenfels melakukan penggalian di Situs Palemba yang juga terletak di Desa Kalumpang, tepatnya di sisi selatan, pada sudut pertemuan antara Sungai Karataun dan Sungai Karama. (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/ – “Petutur Austronesia Sudah Ada Sejak Sekitar 4000 Tahun Lalu di Sulawesi“. Posted on Februari 12, 2016).

Penelitian di Situs Kamasi kemudian dilanjutkan oleh Heekeren pada 1949, dengan membuka kotak ekskavasi di sekitar kotak gali Stein Callenfels. Selain di Kamasi, Heekeren (1972) melakukan survei di Minanga Sipakko yang letaknya di tepi utara Sungai Karama, sekitar 4 km di selatan Desa Kalumpang dan memperoleh temuan yang serupa dengan temuan dari Kamasi. Temuan dari hasil penelitian Stein Callenfels dan Heekeren itulah yang menjadi tonggak awal penelitian arkeologi di wilayah Kalumpang, sehingga memunculkan istilah budaya Neolitik Kalumpang. (ibid)

Truman Simanjuntak melakukan penelitian ulang terhadap Situs Minanga Sipakko pada 2004–2005, dan menemukan sisa pemukiman Neolitik awal yang masih in situ pada kedalaman 80-100 cm dari permukaan sekarang. Penelitian intensif di situs Neolitik Minanga Sipakko dilakukan kembali pada 2007–2008. Hasil ekskavasi di Minanga Sipakko pada 2004–2005 dan 2007, dan di Kamasi pada 2008 menunjukkan adanya lapisan hunian Neolitik dengan karakteristik relatif sama, yang dimulai sekitar 3600 tahun yang lalu. (ibid)

Dengan menimbang berbagai hal terkait Karataun di Kecamatan Kalumpang, maka dalam pembahasan selanjutnya, Karataun (kalumpang) akan dimasukkan dalam hipotesis sebagai toponim yang menunjukkan jejak sebagai pusat kedatuan di masa kuno.

Dan berikut ini informasi dari kronik Cina yang saya identifikasi berada pada wilayah Sulawesi Selatan…

“ada sebuah gua (?), yang selalu mengeluarkan air garam.” kalimat yang lebih lengkap terdapat dalam buku O.W. Wolters “Kebangkitan & Kejayaan Sriwijaya Abad III-VII” hlm. 258 “Di pegunungan terdapat gua-gua, dan dari dalam gua mengalir garam. Penduduk negeri ini mengumpulkan garam itu dan memakannya.” Dugaan saya bahwa gua-gua yang mengeluarkan air garam kemungkinannya berada di dataran tinggi terjawab dengan adanya kalimat yang lebih lengkap yang terdapat dalam buku tulisan O.W. Wolters. 

Keberadaan air garam di pegunungan memang menjadi hal yang unik dan menarik untuk dicatat. hal semacam ini, kebetulan dapat kita temukan di wilayah kaki gunung Latimojong di Sulawesi selatan.

Untuk kebutuhan garam, penduduk di kaki gunung latimojong seperti di wilayah Tibusan hingga Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu pada masa lalu biasanya membasahi daun tertentu dengan air garam lalu menjemurnya. ketika memasak, daun yang telah memiliki kristal garam tersebut tinggal mereka celupkan di masakan tersebut.

Di Wilayah Rante Balla, baru-baru ini ditemukan mata air dengan kadar garam tinggi, sehingga rasanya terasa sangat asin. Dokumentasi video mengenai sumber mata air asin tersebut dapat pembaca simak videonya di youtube dengan judul “Ajaib Mata Air di Pegunungan Ranteballa Latimojong Asin”.

“Penduduk membuat minuman keras dari bunga kelapa (atau bunga aren). Bunga pohon ini panjangnya dapat mencapai tiga kaki, dan besarnya sama dengan tangan orang. Bunga ini dipotong, dan airnya ditampung dijadikan minuma keras; rasanya amat manis, tetapi orang cepat sekali mabuk dibuatnya.” – Dapat dikatakan membuat minuman beralkohol dari pohon aren adalah tradisi yang sangat umum dikenal di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya di wilayah Luwu maupun Toraja. Minuman ini biasanya disebut Ballo’ (tuak).

“Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut.” – nama tersebut persis sama dengan nama gunung langpiya (atau “lampia” dalam pengucapan aksen lokal) di wilayah Luwu Timur.

Bahkan kabarnya, Anton Andi Pangerang, seorang bangsawan sepuh, sejarawan dan antropolog yang terkemuka di Tana Luwu, memiliki rumah peristirahatan di wilayah ini. (dalam suatu kesempatan audiens ke kediamannya, penulis telah pernah dipersilahkan beliau ketempat itu hanya saja hingga kini belum ada kesempatan untuk berkunjung ke tempat itu).

Bulu Lampia/ langpiya dengan pemandangan laut di kejauhan (Dokpri)

Sebelumnya, Oleh beberapa sejarawan, Lang-pi-ya diidentifikasi terletak di pulau Jawa, di desa Krapyak dekat gunung Lasem. (E. W. van Orsoy de Flines, “Hasin, Medang, Kuwu, Langpi-ya“, TBG, LXXXIII, 1949, hlm. 424-429;  Sejarah Nasional Indonesia – Zaman Kuno 2008, hlm 120-121).

“Pada tahun 674 M rakyat kerajaan itu menobatkan seorang perempuan sebagai ratu yaitu ratu Hzi-mo [Sima]. Konon ratu ini memerintah dengan sangat kerasnya, namun bijaksana sehingga Ho-ling menjadi negara yang aman..” – Nama Ratu Sima identik dengan Raja/ Datu ketiga dalam silsilah kedatuan Luwu, yang kebetulan juga seorang perempuan, bernama Simpurusiang, yang mungkin saja bentuk aslinya adalah si-ma-pu-ru-si-ang.

Simpurusiang adalah datu ketiga dalam catatan silsilah kedatuan Luwu yang melegenda. Dalam literature sejarah Tana Luwu, diceritakan bahwa Simpurusiang adalah sosok to manurung yang melanjutkan pemerintahan di Kedatuan Luwu setelah masa kekosongan pemerintahan yang belum diketahui berapa lamanya. Selama masa kekosongan tersebut terjadi kekacauan, yang kuat memangsa yang lemah, si-andre bale dalam ungkapan bahasa bugisnya.

Dalam buku “The Early and the Imperial Kingdom in Southeast Asian History” Hermann Kulke mengatakan bahwa penobatan Ratu Sima sebagai penguasa Ho-ling adalah wujud primus inter pares (utama/ pertama dari yang sederajatdi antara dua puluh delapan bangsawan yang menjadi penguasa negara kecil disekitarnya.

Artinya, meskipun Sima atau Simpurusiang sederajat takaran kebangsawanannya dengan penguasa di wilayah sekitarnya, namun karena dianggap memiliki kelebihan khusus dalam hal kepemimpinan, maka akhirnya dialah yang dinobatkan menjadi penguasa tertinggi dan membawahi negera-negara kecil yang ada disekitarnya.

Di sekeliling She-po ada 28 kerajaan kecil, dan tidak ada diantaranya yang tidak tunduk. Ada 32 pejabat tinggi kerajaan, dan yang terutama di antara mereka ialah ta-tso-kan-hsiung (W. P. Groeneveldt, Historical Notes, hlm. 12-15).” – Terdapatnya 32 pejabat tinggi kerajaan dalam pemerintahan Ho-ling, dapat diperkirakan adalah terdiri dari utusan 28 negera kecil disekitarnya ditambah 4 orang yang merupakan pejabat kerajaan/kedatuan tingkat regional yang masing-masing membawahi dan mengurusi 7 negara kecil di sekitarnya. Sistem semacam ini, hingga hari ini masih dapat ditemukan dalam sistem pemerintahan kedatuan Luwu. 

Misalnya, Maddika Bua, membawahi/ mengurusi wilayah : Kendari, Kolaka, Sangngalla’, Pantilang, Wara/Palopo dan WalEnrang; Makole BaEbunta, membawahi/ mengurusi wilayah : Donggala/Palu, Nuha, Malili, Wotu, Mangkutana, BonE-BonE, MalangkE’, Masamba dan Rongkong; Maddika Ponrang, membawahi/ mengurusi wilayah : Pitumpanua, Larompong, Suli, Bastem (RantE Galla’).  

Adapun nama  ta-tso-kan-hsiung yang dikatakan sebagai yang utama diantara seluruh pejabat tinggi kerajaan Ho-ling, sangat identik dengan nama To Ciung yang melegenda sebagai orang bijak dari Tana Luwu. Dapat kita lihat bahwa “hsiung” sangatlah identik dengan “Ciung”. Jadi dengan demikian, bisa jadi nama To Ciung sebenarnya adalah nama jabatan pada masa kuno, yang kemudian melegenda menjadi nama sosok orang bijak di Tana Luwu pada hari ini.

“raja Ho-ling tinggal di kota She-p’o, tetapi nenek moyangnya yang bernama Ki-yen telah memindahkan ibu kotanya ke timur, ke Po-lu-chia-sseu. Menurut Berita dalam Ying-huan-tchelio perpindahan itu terjadi dalam masa pemerintahan T’ien-pao, yakni disekitaran tahun 742-755 M.” – Nama Po-lu-chia-sseu dan T’ien-pao kuat dugaan saya ada keterkaitan dengan Raja/Datu kelima dalam silsilah kedatuan Luwu, yakni: Tampa Balusu. Nama T’ien-pao identik dengan “tampa”; sementara, Balusu identik dengan “Po-lu-chia-sseu”.

Jadi, dapat diduga bahwa nama “Tampa Balusu” dapat diurai terdiri dari: tampa = nama panggilan, gelar atau julukan; sementara, Balusu = nama wilayah.

Masa pemerintahan T’ien-pao (tampa balusu) yang disebutkan antara tahun 742-755 M, selisih sekitar 68 tahun dari masa penobatan Ratu Sima (674 M). Untuk hal ini, dapat diduga bahwa rentang waktu 68 tahun tersebut adalah terdiri dari masa pemerintahan Ratu Sima (simpurusiang) dan putranya Anakaji (datu ke-4 dalam silsilah kedatuan Luwu).

Mengenai berita dalam kronik Cina bahwa Ho-ling menghasilkan kulit penyu, emas dan perak, cula badak, dan gading, sepintaslalu akan membuat orang akan berpikir bahwa karena di pulau Sulawesi tidak ada hewan Badak dan Gajah, maka dengan sendirinya membuat hipotesis gugur atau setidaknya akan dianggap lemah. Namun penting untuk dipahami bahwa komoditas yang diperdagangkan orang dari pulau Sulawesi di negeri Cina bisa saja berasal dari pulau-pulau sekitarnya. 

Daya jelajah orang Sulawesi untuk mendapatkan barang dagangannya tak perlu diragukan. mereka tak segan berlayar hingga ratusan mil ke pantai utara Australia hanya untuk berburu teripang untuk kemudian dipasarkan ke negeri Cina.

Demikian pula gading gajah ataupun cula badak. mereka dapat saja berburu hingga ke pulau Jawa dan Sumatera, mengumpulkannya, lalu menjualnya ke Cina. Dan karena itu, tidaklah mengherankan jika kronik Cina kemudian menyebut Ho-ling sebagai negeri penghasil komoditi cula badak dan gading gajah.

Dengan ukuran panjang kapal hingga 65 meter, dan dapat mengangkut hingga 600 orang, pada masa itu, pelayaran dengan muatan hewan bertubuh besar bukanlah suatu masalah. Setidaknya hal tersebut dapat kita cermati pada berita dalam kronik Cina yang mengatakan bahwa abad ke-7 utusan to-ho-lo yang berkunjung ke Negeri Cina, memohon untuk diberikan kuda-kuda dengan jenis yang baik, dan kaisar dikatakan mengabulkan permintaan tersebut.

Perkiraan letak wilayah kerajan Ho-ling di Pulau Sulawesi

Di pulau Sulawesi, Terdapat  suatu toponim kuno bernama “karatuan” yang menunjukkan keidentikan dengan dengan kata “kadatuan”. Perbandingan keidentikan antara bentuk kata “karatuan” dan “kadatuan” secara jelas kiranya dapat kita lihat pada bentuk kata “kraton” dan “kdaton”.

Karatuan jelas berasal dari akar kata “Ratu” demikian pula kadatuan berasal dari akar kata “Datu”, dan bahwa hal ini merupakan wujud dari perubahan antara fonetis r dan d. Di sisi lain, dalam beberapa prasasti, nama Sriwijaya biasanya ditulis dengan sebuatan “Kadatuan Sriwijaya”.

Dengan pertimbangan di atas, saya berasumsi bahwa penggunaan sebutan “Karatuan” pada wilayah-wilayah tertentu di pulau Sulawesi bisa jadi berlatar historis bahwa di tempat itu, pada masa lalu, adalah merupakan pusat kedatuan.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, rekonstruksi perpindahan ibu kota She-po lebih ke Timur (ke wilayah Po-lu-chia-sseu) pada masa T’ien-pao (Tampa Balusu), saya perkirakan, yakni dari karatuang (wilayah tappalang, mamuju, Sulawesi Barat hari ini) atau Karataun (wilayah Kalumpang, Mamuju, Sulawesi Barat), ke wilayah Balusu (wilayah Toraja Utara hari ini). lihat gambar berikut…

beberapa wilayah dengan nama karatuan di pulau Sulawesi. (Dokpri)

Adapun wilayah pegunungan di mana terdapat sumber mata air asin, berada di wilayah karatuan (Basse sang tempe’, kabupaten Luwu, Sulawesi selatan). Wilayah ini tepat berada di sekitar kaki gunung Latimojong.

Sementara itu, Karatuang di wilayah Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan hari ini, saya menduga menjadi pusat kerajaan/ Kedatuan beberapa ratus tahun kemudian. wilayah yang berada di ujung semenanjung pulau sulawesi ini tentunya  merupakan posisi yang strategis untuk melayani kegiatan pelayaran dan perdagangan yang telah ramai melintas dari wilayah barat ke timur Nusantara, ataupun sebaliknya.

Demikianlah interpretasi saya terkait informasi kerajaan Ho-ling yang bersumber dari kronik Cina. Lebih jauh mengenai Interpretasi lainnya yang merujuk pada nama wilayah (toponim) yang disebutkan dalam kronik Cina yang kelihatan sangat identik pula dengan nama wilayah yang ada di wilayah pulau Sulawesi, Insya Allah akan saya bahas pada tulisan selanjutnya.

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat… salam.


Tulisan ini sebelumnya telah terbit di Situs Kompasiana. Di sini: kompasiana.com/fadlyandipa.
Fadly Bahari, Palopo 24 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

8 views