Press "Enter" to skip to content

“Batu Pasui” di Karatuan, Mitologisasi Batu Gnomon Peninggalan kerajaan Ho-ling

Gnomon atau sundial, merupakan metode penentuan waktu dengan memanfaatkan bayangan matahari di masa kuno (sumber image: www.timecenter.com)

Batu Gnomon adalah jam matahari. Merupakan cara orang-orang di masa kuno untuk menentukan waktu, dengan memanfaatkan bayangan yang terbentuk ketika cahaya Matahari menerpa suatu objek (batu atau benda lainnya), sehingga objek tersebut membentuk bayangan.

Dalam kronik Cina, terdapat berita tentang orang-orang di kerajaan Ho-ling yang menggunakan batu gnomon untuk menentukan waktu.

Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut. Apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, dan panjangnya dua kaki empat inci.” (Sejarah Nasional Indonesia – Zaman Kuno, Edisi Pemutakhiran. 2008. hlm. 119)

Pada tulisan saya sebelumnya, yaitu: Hipotesis Ini Buktikan Kerajaan Holing Terletak di Sulawes– telah saya urai penjelasan mengenai bukti-bukti terbaru yang menunjukkan bahwa Kerajaan Ho-ling yang disebutkan dalam kronik Cina, besar kemungkinannya terletak di pulau Sulawesi.

Dalam tulisan tersebut, juga telah saya urai bahwa suatu toponim kuno, yakni “karatuan” yang saya identifikasi digunakan setidaknya di tiga wilayah di pulau Sulawesi, yakni di Basse Sang tempe (bastem), kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan; di Tappalang, Mamuju, Sulawesi Barat; dan di Bantaeng, Sulawesi Selatan, adalah merupakan bentuk lain dari kata “kadatuan“, yang dalam hal ini dapat kita pahami bahwa telah terjadi perubahan fonetis dan pada kedua kata tersebut.

Perbandingan keidentikan kata “Karatuan” dan “kadatuan” dapat pula kita temukan pada bentuk kata “kraton” dan “kdaton“.

Di sisi lain, pada umumnya prasasti-prasasti peninggalan dari masa kuno menggunakan kata kadatuan untuk menyebut suatu kerajaan. Seperti Sriwijaya yang biasanya ditulis dengan sebutan “kadatuan Sriwijaya”.

Terkhusus untuk wilayah karatuan di Bastem (Basse Sang Tempe) kabupaten Luwu, di wilayah ini terdapat suatu mitos tentang “batu pasui“. Pasui dalam bahasa tae’ kurang lebih artinya “pengisap“, jadi “batu pasui” secara harafiah dapat dimaknai “batu pengisap“.

Batu Pasui terletak di atas bukit karatuan bastem. yakni sebuah batu yang jika bayangan burung jatuh pada batu tersebut maka burung tersebut akan jatuh dan mati. Ini sebagaimana yang diungkap Puang F. Ratu, sebagai sesepuh pemangku Parengnge Karatuan – Basse Sang Tempe, ketika saya Mewawancarai beliau di kediamannya pada tanggal 8 Juni 2017.

Wawancara saya dengan Puang Puang F. Ratu,  sesepuh pemangku Parengnge Karatuan, di kediaman beliau, 8 Juni 2017 (Dokumen pribadi)

Bukit Karatuan adalah sebuah gunung batu yang tingginya sekitar beberapa puluh meter. Konon menurut masyarakat setempat, di puncak gunung batu ini terdapat banyak peninggalan kuno, karenanya tidak sembarang orang diizinkan naik ke gunung tersebut.

Dari artikel palopopos.fajar.co.id dengan judul Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya – diberitakan bahwa menurut Ketua Umum KKBS Abdul Hafid Pasiangan, di atas puncak gunung batu tersebut terdapat sebuah lesung yang di bawahnya dipercaya ada harta karun nenek moyang masyarakat Bastem. Selain lesung ada juga sebuah batu yang masyarakat [setempat] menyebutnya dengan nama “batu Pasui”.

Dikatakan Hafid, menurus cerita leluhur jika ada sebuah burung yang terbang dekat batu tersebut, lalu bayangan burung itu terkena di batu, maka akan langsung mati dan jatuh. (palopopos.fajar.co.id – Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya. Posted on Oktober 11, 2016)

Sumber lainnya, yakni Kadis Dukcapil Luwu, Muh. aras Nursalam, yang juga pernah menjabat camat di Bastem [Basse Sang Tempe], mengatakan bahwa dirinya pernah ke puncak gunung ini, dan di atas dijumpainya batuan yang mirip candi. (palopopos.fajar.co.id – Gunung Batu yang Dipercaya Ada Harta Karunnya. Posted on Oktober 11, 2016).

Hipotesis batu pasui sebagai mitologisasi batu gnomon

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya dalam hipotesis batu pasui sebagai bentuk mitologisasi batu gnomon, adalah: (1). Adanya Variabel kata “bayangan” yang konsisten melekat dalam cerita mitos, (2). Objek utama adalah berwujud sebuah batu, (3). Letaknya yang tepat berada di atas puncak gunung

Kesemua variable tersebut setidaknya selaras dengan apa yang diberitakan dalam kronik cina: “Di daerah pegunungan ada sebuah daerah yang bernama Lang-pi-ya, raja sering pergi ke sana untuk menikmati pemandangan laut. Apabila pada pertengahan musim panas orang mendirikan gnomon setinggi 8 kaki, bayangannya akan jatuh ke sebelah selatannya, dan panjangnya dua kaki empat inci.

Dari uraian ini kita dapat melihat bahwa pada awalnya batu tersebut digunakan oleh masyarakat setempat untuk menentukan waktu dengan mencermati bayangan batu matahari, namun seiring berjalannya waktu, ketika ilmu penentuan waktu tersebut telah terlupakan, dan yang tersisa di ingatan kolektif masyarakat setempat adalah variabel objek “batu” dan “bayangan” saja, maka berkembanglah bentuk cerita mitos “batu pasui” dalam cerita tutur masyarakat karatuan bastem, sebagai wujud interpretasi variabel objek “batu” dan “bayangan” yang tersisa dalam ingatan kolektif mereka. Fenomena semacam ini merupakan tipikal urban legend (legenda urban).

Hipotesis mengenai batu pasui di karatuan bastem sebagai bentuk mitologisasi terhadap batu gnomon yang disebutkan dalam kronik Cina terkait informasi kerajaan Ho-ling, sejalan pula dengan informasi kronik Cina lainnya (dan masih tentang kerajaan Ho-ling), yaitu tentang keberadaan suatu wilayah yang mengeluarkan air garam.

Karena di sekitar wilayah ini pula terdapat mata air yang mengeluarkan air dengan kadar garam yang tinggi, dan bahwa pada masa lalu, untuk kebutuhan garamnya, penduduk di kaki gunung latimojong seperti di wilayah Tibusan hingga Rante Balla, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, biasanya membasahi daun tertentu dengan air garam tersebut lalu menjemurnya. ketika memasak, daun yang telah memiliki kristal garam tersebut tinggal mereka celupkan di masakan tersebut.

Karatuan dan Rante Balla berada dalam satu kawasan yang sama, yang pada masa lalu biasanya disebut sebagai wilayah Basse Sang Tempe. (Dokumen Pribadi)

Demikian ulasan ini, semoga bermanfaat… salam.


Tulisan ini sebelumnya telah terbit di akun blog saya di Kompasiana. Di sini: kompasiana.com/fadlyandipa.
Fadly Bahari, Palopo 24 Maret 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

7 views